Showing posts with label Mutiara Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Hikmah. Show all posts

Tentang RIZKI

14:34
Tentang RIZKI
***
Mungkin kau tak tau dimana rizkimu...
Tapi rizkimu tau dimana dirimu...
Dari lautan biru, bumi dan gunung...
Allah memerintahkannya menujumu...
Allah menjamin rizkimu, sejak 4 bulan 10 hari kau dalam kandungan ibumu...

Amatlah keliru bila bertawakkal rizki, dimaknai dari hasil bekerja...
Karena bekerja adalah ibadah... sedang rizki itu urusanNya...

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminNya...
Adalah kekeliruan berganda...

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji...
Yang mungkin esok akan ditinggal mati...
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka...
Tapi apa yang telah dinikmatinya...

Rizki takselalu terletak pada pekerjaan kita...
Allah menaruh sekehendakNya...

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa...
Tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya...
Ikhtiyar itu perbuatan...
Rizki itu kejutan...

Dan jangan lupa...
Tiap hakekat rizki akan ditanya...
"Darimana dan untuk apa"...
Karena rizki adalah "hak pakai"...
Halalnya dihisab...
Haramnya diadzab...

Maka, jangan kau iri pada rizki orang lain...
Bila kau iri pada rizkinya, kau juga harus iri pada takdir matinya...
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummatnya...
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya...
Jadi yakinlah semua adalah dan atas kehendakNya...
 Semoga bermanfaat...
Baarakallaahu fiikum...

Ada yang Lebih Utama daripada Sholat di Masjidil Haram

20:06
Kakbah 

Oleh: Ustadz Ahmad Musyaddad, Lc, MEI

Banyak sahabat yang mengatakan kepada saya, “Subhanallah, beruntungnya Anda bisa tetap menunaikan shalat di masjidil Haram,” yang lain berkata, “Saya pingin tinggal di Mekah seperti Anda, supaya bisa shalat di masjidil Haram,” dan ungkapan lainnya.

Sahabat.. Siapapun kita, tentu kita rindu kepada Baitullah. Dan demikianlah Allah menambatkan hati-hati manusia untuk senantiasa merinduinya. Bertawaf di Ka’bahnya, Shalat di dalamnya, meminum Zamzamnya. Menumpahruahkan air mata keinsyafan atas segala dosa.

Sahabat.. Shalat di Masjidil Haram senilai 100 ribu shalat di Masjid lainnya. Shalat di Masjid Nabawi seribu kali dari shalat di Masjid yang lain.

Namun, sahabat... Tahukah anda apa yang lebih agung dari itu semua?
Jawabnya: membantu orang yang memerlukan. Iya, menolong sesama. Meringankan beban orang lain. Terutama orang terdekat dari anda.

Hari ini (Jumat kemarin) khatib Masjidil Haram, Syeikh As-Sudais berkhutbah tentang urgensi membantu orang lain. Salah satu pesan Nabi saw yang disitir oleh Khatib adalah pesan beliau yang berbunyi, "Sungguh aktifitas membantu seorang saudara yang berada dalam kesulitan lebih aku sukai dari beri’tikaf di masjidku ini (yakni Masjid Nabawi) sebulan penuh."

Coba perhatikan kembali, Nabi bersabda, “Aku menolong untuk memenuhi suatu hajat dari saudaraku lebih aku sukai dari beri’tikaf di masjid Nabawi sebulan penuh.”

Mari kita hitung. Dalam satu bulan ada 150 shalat wajib. 1 shalat di masjid nabawi sama dengan 1000 shalat di masjid lain (kecuali masjidil Haram). Artinya, sama dengan 150.000 shalat. Lebih besar dari shalat di Masjid Haram.

Akhirnya, sering-seringlah membantu kesusahan orang lain, sebab ia lebih utama dari hanya sekedar shalat di Masjidil Haram.

Semoga dengan memperbanyak membantu orang lain, anda mendapat kemudahan untuk meletakkan kening anda di hadapan Ka’bahNya.

Salam jum’at dari pelataran Masjidil Haram.[left-sidebar]

__
Sumber: http://pksarabsaudi.org/ada-yang-lebih-utama-daripada-sholat-di-masjidil-haram/

Menyelami Rahasia "Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in"

09:46
 
Oleh: Faris Jihady, Lc

Dua kata ini “ibadah” dan “isti’anah“, adalah poros dari segala hal. Keduanya adalah rahasia dari penciptaan dan perintah, hikmah dari diturunkannya kitab-kitab dan ditetapkannya syariat, diaturnya pahala dan dosa. Keduanya adalah sentral dari ‘ubudiyah (penghambaan) dan Tauhid (pengesaan).

Konon dikatakan, Allah telah menurunkan sejumlah 104 buah kitab, semua maknanya dihimpun dalam Taurat, Injil, dan AlQur’an. Kemudian semua makna ketiga kitab ini dirangkum dalam AlQur’an, lalu seluruh makna AlQur’an diringkas dalam AlMufasshal (Surat dengan ayat-ayat pendek), kemudian makna keseluruhan Al-Mufasshal dipadatkan dalam Al-Fatihah, dan keseluruhan makna Al-Fatihah disimpulkan dalam إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

Dua kalimat inilah yang membagi dua antara Rabb dengan hambaNya; “IyyaKa Na’budu” adalah untukNya, dan “iyyaKa nasta’in” adalah untuk hambaNya.

Ibadah menghimpun dua pokok penting; puncak cinta disertai puncak ketundukan. Jika engkau mencintai seseorang dan tidak tunduk padanya, kau bukanlah penghambanya, dan jika engkau tunduk padanya, kau takkan menjadi penghambanya hingga kau mencintainya.

Adapun ist’ianah (memohon pertolongan) menghimpun dua hal; tsiqah (percaya) pada Allah, dan bersandar kepadaNya. Bisa jadi seseorang mempercayai kawannya, namun tidak menyandarkan urusan kepadanya, karena merasa sudah cukup dan tidak butuh pada kawannya. Dapat juga terjadi sebaliknya, seseorang menyandarkan urusan pada kawannya, namun hakikatnya tidak percaya padanya, akibat kebutuhan dan keterdesakan ia pun tak miliki pilihan. Isti’anah juga diungkapkan dengan bahasa lain, yaitu tawakkal.

Al-Qur’an dalam beberapa tempat menyebut tawakkal dan ibadah secara beriringan dalam berbagai konteks;

إياك نعبد وإياك نستعين adalah penyebutan yang pertama.

Yang kedua; tatkala Allah berfirman melalui lisan Syua’ib;

{وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ} [هود: 88]

Tidaklah aku mendapat petunjuk kecuali dari Allah, kepadaNya aku berserah meminta pertolongan(tawakkal) dan kepadaNya aku berpulang (Hud 88)

Yang ketiga; tatkala Allah berfirman

{وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ} [هود: 123]
Milik Allah-lah ke-ghaiban langit dan bumi, kepadaNya kembali segala urusan, maka sembahlah (ibadahilah) Dia dan tawakkal-lah padaNya (Hud 123)

Yang keempat, ketika Allah menceritakan perkataan orang beriman

{رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [الممتحنة: 4]
Ya Tuhan Kami, kepada Engkau kami bertawakkal, dan kepadaMu kami berpulang (taubat), dan Engkaulah tempat kembali (Al-Mumtahanah 4)

Yang kelima, tatkala Allah perintahkan zikir dan tasbih

{وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا} [المزمل: 8]
Dan sebutlah nama Rabbmu, khusyu’lah kepadaNya dengan sebenar-benar. Dialah Rabb Penguasa timur dan barat, Tiada Tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia penolong/pelindungMu (Al-Muzzammil 8)

Inilah beberapa tempat dalam AlQur’an yang menghimpun dua simpul penting ini إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

Mengapa ibadah العبادة didahulukan sebelum meminta pertolongan الاستعانة ?

karena penyebutan tujuan (ghayah) penting didahulukan sebelum sarana (wasilah). Karena ibadah adalah tujuan pokok dari penciptaan hamba, dan isti’anah adalah sarana yang mengantarkan menuju tujuan tersebut.

Ibadah diletakkan sebelum isti’anah, karena إياك نعبد terkait dengan uluhiyahNya (hak Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi), sedangkan إياك نستعين terkait dengan rububiyahNya (Dia satu-satuNya pencipta dan pengatur makhluk). Ini selaras dengan rangkaian awal surat Al-Fatihah ini yang mendahulukan lafaz namaNya; “Allah” sebelum penyebutan lafaz “Rabb”. إياك نعبد adalah bagian milikNya, sedangkan إياك نستعين adalah untuk hambaNya.

Ibadah secara mutlak mencakup isti’anah, namun tak selalu isti’anah mencakup ibadah. Setiap ‘abid (penghamba) yang sempurna sudah pasti peminta pertolonganNya, namun tidak setiap peminta pertolonganNya adalah ‘abid (penghambaNya) yang sempurna. Karena itulah ibadah (penghambaan) total selalu muncul dari seorang mukhlish (ikhlas/murni), sedangkan isti’anah boleh jadi muncul dari seorang mukhlish ataupun bukan mukhlish.

Ibadah adalah hakNya yang harus kita penuhi yang telah Dia wajibkan atas kita, sedangkan isti’anah adalah permintaan pertolongan untuk menegakkan ibadah. Ibadah juga merupakan bentuk syukur pada setiap karunia yang telah terlimpah. Jika kau masukkan dirimu dalam penghambaanNya, Dia akan menolongmu, semakin kau mengikat komitmen dalam penghambaan semakin terlimpah perlindungan dan pertolonganNya.

Disadur dari:
Madarij AsSalikin, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah

Sumber: Manhajuna

Bila Hatimu Dipenuhi Iman

10:09

Bila hatimu dipenuhi iman, apapun bisa menjadi nasehat bagi dirimu. Tapi bila hatimu kosong dari keimanan apapun bentuk nasehat, tidak akan ada artinya bagimu.


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya..."(Yunus: 9)

-Zulfi Akmal-

Apa Yang Sedang Terjadi di Negeri Ini Sudah Diramalkan Rasulullah Muhammad SAW

09:40


APA YANG SEDANG TERJADI DI NEGERI INI SUDAH DINUBUWATKAN/DIRAMALKAN OLEH RASULULLAH MUHAMMAD SAW

1. "Dari Abu Hurairah RA yang berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:"Akan ada di akhir zaman para penguasa sewenang-wenang, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat, dan para ahli hukum Islam (fuqaha’) pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pengumpul pajak, pemimpin, dan polisi." (HR. Thabrani)

2. Dari Abu Hisyam as-Silmi berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:"Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya).Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi." (HR. Thabrani)

3. Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:"Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatinya."(HR. Ibnu Abi Syaibah)

4. "Aku memohon perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh." (HR. Ahmad)

'Kenapa Allah tidak membiarkan dunia ini damai dan sejahtera?'

13:02
 

Oleh Zulfi Akmal
(Al-Azhar Cairo)

Ketika mengaji kitab Nurul Yaqin dengan guruku almarhum ustadz Syamsul Mashri di pesantren dulu, aku sempat mengajukan pertanyaan seperti ini:

"Kenapa Allah tidak membiarkan dunia ini damai dan sejahtera seperti yang pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam waktu lama? Kenapa selalu ada kemelut?"

Beliau menjawab begini:

"Dunia ini diciptakan Allah sebagai ladang amal dan ujian bagi manusia, bukan kampung tempat pembalasan. Bila dunia ini berjalan tanpa cobaan dan rintangan, di mana letak ujiannya bagi manusia?

Bagaimana cara mengetahui orang yang baik dan jahat, siapa yang taat dan siapa yang durhaka, siapa yang sabar dan siapa yang tidak sabar, siapa yang adil dan siapa yang zalim, siapa pembela kebenaran dan siapa pendukung kebatilan, siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang mesti direndam dalam neraka?

Keadilan, keamanan, kesejahterahan itu datangnya atas usaha manusia, bukan hadiah cuma-cuma yang turun dari langit. Usaha mewujudkan itulah yang dinilai oleh Allah.

Perdamaian dan kesatuan hati manusia, muslim khususnya adalah dengan mewujudkan seluruh syaratnya. Yaitu dengan kekuatan iman dan keteguhan berpegang pada tali Allah.

Sepanjang hal itu tidak dilakukan, perdamaian tidak akan pernah terjadi dipermukaan bumi ini.

Tidak ada masalah bila dunia dipenuhi angkara murka, kezaliman, dan kedurhakaan. Yang penting dirimu tetap teguh pada posisi yang benar dan berjalan bersama para pembela kebenaran, sekalipun daging dan tulangmu harus hancur berantakan dan darahmu tumpah membasahi bumi".

Semoga Allah merahmatimu wahai guruku dan memberikan hidayah serta kesabaran kepadaku dalam mengarungi kehidupan ini sampai datang waktunya menyusul ke alam sana.[piyungan]