Showing posts with label Mutiara Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Hikmah. Show all posts

Tentang RIZKI

14:34
Tentang RIZKI
***
Mungkin kau tak tau dimana rizkimu...
Tapi rizkimu tau dimana dirimu...
Dari lautan biru, bumi dan gunung...
Allah memerintahkannya menujumu...
Allah menjamin rizkimu, sejak 4 bulan 10 hari kau dalam kandungan ibumu...

Amatlah keliru bila bertawakkal rizki, dimaknai dari hasil bekerja...
Karena bekerja adalah ibadah... sedang rizki itu urusanNya...

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminNya...
Adalah kekeliruan berganda...

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji...
Yang mungkin esok akan ditinggal mati...
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka...
Tapi apa yang telah dinikmatinya...

Rizki takselalu terletak pada pekerjaan kita...
Allah menaruh sekehendakNya...

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa...
Tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya...
Ikhtiyar itu perbuatan...
Rizki itu kejutan...

Dan jangan lupa...
Tiap hakekat rizki akan ditanya...
"Darimana dan untuk apa"...
Karena rizki adalah "hak pakai"...
Halalnya dihisab...
Haramnya diadzab...

Maka, jangan kau iri pada rizki orang lain...
Bila kau iri pada rizkinya, kau juga harus iri pada takdir matinya...
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummatnya...
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya...
Jadi yakinlah semua adalah dan atas kehendakNya...
 Semoga bermanfaat...
Baarakallaahu fiikum...

Ada yang Lebih Utama daripada Sholat di Masjidil Haram

20:06
Kakbah 

Oleh: Ustadz Ahmad Musyaddad, Lc, MEI

Banyak sahabat yang mengatakan kepada saya, “Subhanallah, beruntungnya Anda bisa tetap menunaikan shalat di masjidil Haram,” yang lain berkata, “Saya pingin tinggal di Mekah seperti Anda, supaya bisa shalat di masjidil Haram,” dan ungkapan lainnya.

Sahabat.. Siapapun kita, tentu kita rindu kepada Baitullah. Dan demikianlah Allah menambatkan hati-hati manusia untuk senantiasa merinduinya. Bertawaf di Ka’bahnya, Shalat di dalamnya, meminum Zamzamnya. Menumpahruahkan air mata keinsyafan atas segala dosa.

Sahabat.. Shalat di Masjidil Haram senilai 100 ribu shalat di Masjid lainnya. Shalat di Masjid Nabawi seribu kali dari shalat di Masjid yang lain.

Namun, sahabat... Tahukah anda apa yang lebih agung dari itu semua?
Jawabnya: membantu orang yang memerlukan. Iya, menolong sesama. Meringankan beban orang lain. Terutama orang terdekat dari anda.

Hari ini (Jumat kemarin) khatib Masjidil Haram, Syeikh As-Sudais berkhutbah tentang urgensi membantu orang lain. Salah satu pesan Nabi saw yang disitir oleh Khatib adalah pesan beliau yang berbunyi, "Sungguh aktifitas membantu seorang saudara yang berada dalam kesulitan lebih aku sukai dari beri’tikaf di masjidku ini (yakni Masjid Nabawi) sebulan penuh."

Coba perhatikan kembali, Nabi bersabda, “Aku menolong untuk memenuhi suatu hajat dari saudaraku lebih aku sukai dari beri’tikaf di masjid Nabawi sebulan penuh.

Mari kita hitung. Dalam satu bulan ada 150 shalat wajib. 1 shalat di masjid nabawi sama dengan 1000 shalat di masjid lain (kecuali masjidil Haram). Artinya, sama dengan 150.000 shalat. Lebih besar dari shalat di Masjid Haram.

Akhirnya, sering-seringlah membantu kesusahan orang lain, sebab ia lebih utama dari hanya sekedar shalat di Masjidil Haram.

Semoga dengan memperbanyak membantu orang lain, anda mendapat kemudahan untuk meletakkan kening anda di hadapan Ka’bahNya.

Salam jum’at dari pelataran Masjidil Haram.[left-sidebar]

__
Sumber: http://pksarabsaudi.org/ada-yang-lebih-utama-daripada-sholat-di-masjidil-haram/

Menyelami Rahasia "Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in"

09:46
 
Oleh: Faris Jihady, Lc

Dua kata ini “ibadah” dan “isti’anah“, adalah poros dari segala hal. Keduanya adalah rahasia dari penciptaan dan perintah, hikmah dari diturunkannya kitab-kitab dan ditetapkannya syariat, diaturnya pahala dan dosa. Keduanya adalah sentral dari ‘ubudiyah (penghambaan) dan Tauhid (pengesaan).

Konon dikatakan, Allah telah menurunkan sejumlah 104 buah kitab, semua maknanya dihimpun dalam Taurat, Injil, dan AlQur’an. Kemudian semua makna ketiga kitab ini dirangkum dalam AlQur’an, lalu seluruh makna AlQur’an diringkas dalam AlMufasshal (Surat dengan ayat-ayat pendek), kemudian makna keseluruhan Al-Mufasshal dipadatkan dalam Al-Fatihah, dan keseluruhan makna Al-Fatihah disimpulkan dalam إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

Dua kalimat inilah yang membagi dua antara Rabb dengan hambaNya; “IyyaKa Na’budu” adalah untukNya, dan “iyyaKa nasta’in” adalah untuk hambaNya.

Ibadah menghimpun dua pokok penting; puncak cinta disertai puncak ketundukan. Jika engkau mencintai seseorang dan tidak tunduk padanya, kau bukanlah penghambanya, dan jika engkau tunduk padanya, kau takkan menjadi penghambanya hingga kau mencintainya.

Adapun ist’ianah (memohon pertolongan) menghimpun dua hal; tsiqah (percaya) pada Allah, dan bersandar kepadaNya. Bisa jadi seseorang mempercayai kawannya, namun tidak menyandarkan urusan kepadanya, karena merasa sudah cukup dan tidak butuh pada kawannya. Dapat juga terjadi sebaliknya, seseorang menyandarkan urusan pada kawannya, namun hakikatnya tidak percaya padanya, akibat kebutuhan dan keterdesakan ia pun tak miliki pilihan. Isti’anah juga diungkapkan dengan bahasa lain, yaitu tawakkal.

Al-Qur’an dalam beberapa tempat menyebut tawakkal dan ibadah secara beriringan dalam berbagai konteks;

إياك نعبد وإياك نستعين adalah penyebutan yang pertama.

Yang kedua; tatkala Allah berfirman melalui lisan Syua’ib;

{وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ} [هود: 88]

Tidaklah aku mendapat petunjuk kecuali dari Allah, kepadaNya aku berserah meminta pertolongan(tawakkal) dan kepadaNya aku berpulang (Hud 88)

Yang ketiga; tatkala Allah berfirman

{وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ} [هود: 123]
Milik Allah-lah ke-ghaiban langit dan bumi, kepadaNya kembali segala urusan, maka sembahlah (ibadahilah) Dia dan tawakkal-lah padaNya (Hud 123)

Yang keempat, ketika Allah menceritakan perkataan orang beriman

{رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [الممتحنة: 4]
Ya Tuhan Kami, kepada Engkau kami bertawakkal, dan kepadaMu kami berpulang (taubat), dan Engkaulah tempat kembali (Al-Mumtahanah 4)

Yang kelima, tatkala Allah perintahkan zikir dan tasbih

{وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا} [المزمل: 8]
Dan sebutlah nama Rabbmu, khusyu’lah kepadaNya dengan sebenar-benar. Dialah Rabb Penguasa timur dan barat, Tiada Tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia penolong/pelindungMu (Al-Muzzammil 8)

Inilah beberapa tempat dalam AlQur’an yang menghimpun dua simpul penting ini إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

Mengapa ibadah العبادة didahulukan sebelum meminta pertolongan الاستعانة ?

karena penyebutan tujuan (ghayah) penting didahulukan sebelum sarana (wasilah). Karena ibadah adalah tujuan pokok dari penciptaan hamba, dan isti’anah adalah sarana yang mengantarkan menuju tujuan tersebut.

Ibadah diletakkan sebelum isti’anah, karena إياك نعبد terkait dengan uluhiyahNya (hak Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi), sedangkan إياك نستعين terkait dengan rububiyahNya (Dia satu-satuNya pencipta dan pengatur makhluk). Ini selaras dengan rangkaian awal surat Al-Fatihah ini yang mendahulukan lafaz namaNya; “Allah” sebelum penyebutan lafaz “Rabb”. إياك نعبد adalah bagian milikNya, sedangkan إياك نستعين adalah untuk hambaNya.

Ibadah secara mutlak mencakup isti’anah, namun tak selalu isti’anah mencakup ibadah. Setiap ‘abid (penghamba) yang sempurna sudah pasti peminta pertolonganNya, namun tidak setiap peminta pertolonganNya adalah ‘abid (penghambaNya) yang sempurna. Karena itulah ibadah (penghambaan) total selalu muncul dari seorang mukhlish (ikhlas/murni), sedangkan isti’anah boleh jadi muncul dari seorang mukhlish ataupun bukan mukhlish.

Ibadah adalah hakNya yang harus kita penuhi yang telah Dia wajibkan atas kita, sedangkan isti’anah adalah permintaan pertolongan untuk menegakkan ibadah. Ibadah juga merupakan bentuk syukur pada setiap karunia yang telah terlimpah. Jika kau masukkan dirimu dalam penghambaanNya, Dia akan menolongmu, semakin kau mengikat komitmen dalam penghambaan semakin terlimpah perlindungan dan pertolonganNya.

Disadur dari:
Madarij AsSalikin, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah

Sumber: Manhajuna

Bila Hatimu Dipenuhi Iman

10:09

Bila hatimu dipenuhi iman, apapun bisa menjadi nasehat bagi dirimu. Tapi bila hatimu kosong dari keimanan apapun bentuk nasehat, tidak akan ada artinya bagimu.


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya..."(Yunus: 9)

-Zulfi Akmal-

Apa Yang Sedang Terjadi di Negeri Ini Sudah Diramalkan Rasulullah Muhammad SAW

09:40


APA YANG SEDANG TERJADI DI NEGERI INI SUDAH DINUBUWATKAN/DIRAMALKAN OLEH RASULULLAH MUHAMMAD SAW

1. "Dari Abu Hurairah RA yang berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:"Akan ada di akhir zaman para penguasa sewenang-wenang, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat, dan para ahli hukum Islam (fuqaha’) pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pengumpul pajak, pemimpin, dan polisi." (HR. Thabrani)

2. Dari Abu Hisyam as-Silmi berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:"Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya).Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi." (HR. Thabrani)

3. Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:"Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatinya."(HR. Ibnu Abi Syaibah)

4. "Aku memohon perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh." (HR. Ahmad)

'Kenapa Allah tidak membiarkan dunia ini damai dan sejahtera?'

13:02
 

Oleh Zulfi Akmal
(Al-Azhar Cairo)

Ketika mengaji kitab Nurul Yaqin dengan guruku almarhum ustadz Syamsul Mashri di pesantren dulu, aku sempat mengajukan pertanyaan seperti ini:

"Kenapa Allah tidak membiarkan dunia ini damai dan sejahtera seperti yang pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam waktu lama? Kenapa selalu ada kemelut?"

Beliau menjawab begini:

"Dunia ini diciptakan Allah sebagai ladang amal dan ujian bagi manusia, bukan kampung tempat pembalasan. Bila dunia ini berjalan tanpa cobaan dan rintangan, di mana letak ujiannya bagi manusia?

Bagaimana cara mengetahui orang yang baik dan jahat, siapa yang taat dan siapa yang durhaka, siapa yang sabar dan siapa yang tidak sabar, siapa yang adil dan siapa yang zalim, siapa pembela kebenaran dan siapa pendukung kebatilan, siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang mesti direndam dalam neraka?

Keadilan, keamanan, kesejahterahan itu datangnya atas usaha manusia, bukan hadiah cuma-cuma yang turun dari langit. Usaha mewujudkan itulah yang dinilai oleh Allah.

Perdamaian dan kesatuan hati manusia, muslim khususnya adalah dengan mewujudkan seluruh syaratnya. Yaitu dengan kekuatan iman dan keteguhan berpegang pada tali Allah.

Sepanjang hal itu tidak dilakukan, perdamaian tidak akan pernah terjadi dipermukaan bumi ini.

Tidak ada masalah bila dunia dipenuhi angkara murka, kezaliman, dan kedurhakaan. Yang penting dirimu tetap teguh pada posisi yang benar dan berjalan bersama para pembela kebenaran, sekalipun daging dan tulangmu harus hancur berantakan dan darahmu tumpah membasahi bumi".

Semoga Allah merahmatimu wahai guruku dan memberikan hidayah serta kesabaran kepadaku dalam mengarungi kehidupan ini sampai datang waktunya menyusul ke alam sana.[piyungan]

Insting Cinta Dunia

10:00

Kecintaan kepada harta dunia itu adalah insting yang sudah terpatri di dalam jiwa setiap manusia, sebagaimana terpatrinya rasa lapar di dalam diri setiap orang. Bahkan bagi sebagian orang lebih dari pada itu, sampai ia tega menahan lapar demi utuhnya kekayaan yang dia miliki. Hingga kecintaan kepada harta itu bagaikan rasa ingin buang hajat yang tidak bisa ditahan-tahan.

Jadi, sebenarnya tidak ada perlunya kita memberi motivasi kepada orang lain untuk mau menjadi orang kaya, karena itu sama artinya kita memotivasi orang yang lagi terdesak mau buang hajat untuk segera buang hajat. Akibatnya bisa-bisa yang terjadi ibarat menggas mobil yang putus rem.

Permainan setan untuk menggelincirkan umat manusia amatlah halus. Kadang-kadang dia bisikkan sesutu yang kelihatan benar secara zahir, padahal racun mematikan pada hakikatnya.

Ayat dan hadits Rasul selalu mengingatkan kita untuk jangan kesensem cinta kepada harta dunia. Jangan salah pahami ayat Allah dan sunnah Rasul untuk membenarkan kobaran selera kita.

Yang perlu diajarkan adalah bagaimana mencari harta sesuai dengan yang diredhai Allah dan membelanjakannya sesuai dengan aturan Allah pula. Bukan memotivasi supaya punya banyak harta dengan dalih kalau kita kaya kita bisa banyak bersedekah, bisa berdakwah lebih leluasa, bisa pergi haji dan umrah, bisa menyantuni fakir miskin, anak yatim, janda terlantar dan lain sebagainya.

Tidak diajarkan dan dimotivasipun semua orang tahu hal itu. Tapi sedikit yang jujur dengan alasan itu bila kekayaan betul-betul sudah berada di genggamannya.

Sudah puluhan tulisan mengenai zuhud saya baca, sudah tadabburi ayat al Qur'an dan hadits, sudah dengar dari banyak ulama tentang zuhud terhadap harta benda dunia, tapi tetap saja rasa cinta dunia dan keinginan untuk kaya raya, memiliki harta benda yang banyak bergejolak di dalam diri saya bagaikan hebatnya gejolak syahwat ingin menikah dalam diri seorang pemuda sehat wal afiat yang berumur 17 tahun.

Lalu bagaimana kira-kira gejolaknya pada diri orang yang tidak melakukan itu semua kemudian kita gembosi untuk kaya dengan memakai dalil-dalil agama?

NB: Ini hanya pandangan saya, kita boleh berbeda.

(Zulfi Akmal)

Karena Dakwah Kita Berharga

08:28
Salam takzim tuk semua kader dan simpatisan yang dengan kesadaran penuh dan iman yang dalam telah berkontribusi pada dakwah ini. Atmosfer kebaikan ini semoga terus berlanjut. Menjadi tradisi yang abadi.

Kesadaran akan berkontribusi dalam jamaah tuk dakwah adalah sebuah bukti kerja iman di hati kita. Tanpa harus berdebat panjang. Tanpa harus saling membebankan. Tanpa harus berobsesi pada sebuah kemuliaan di mata manusia.

Semua kontribusi itu dibingkai dalam sebuah perencanaan matang agenda besar jamaah. Dalam sebuah sistem atau manhaj yang telah ditetapkan. Semua bagian dari sistem. Tidak boleh seorangpun merasa lebih besar dari sebuah sistem.

Karena saat seorang kader merasa lebih besar dari sebuah sistem, maka yang terjadi adalah sebuah bencana dakwah. Penyakit dakwah berupa "cinta pd eksistensi diri" akan merusak tatanan yang sudah digariskan.

Saat kita semua mau dengan rendah hati bekerja dalam sebuah sistem maka yakinlah narasi narasi besar tentang Islam yang kita usung akan menjadi kasat mata. Narasi-narasi itu akan membentuk cerita keajaiban dalam dunia nyata.

Maka jika hari ini kita masih enggan berkontribusi dengan alasan apapun, maka selayaknya kita malu pada kisah semangat bocah kecil yang ingin ikut berjihad tidak diizinkan Rasul SAW karena tubuh kecilnya dan ia pun harus berpura pura tinggi agar diizinkan ikut berjihad.

Maka jika hari ini kita masih enggan berjamaah dengan alasan apapun, maka selayaknya merenung dengan kisah Abuzar Al-Ghiffary yang dengan segala kelemahannya, tetap menyusul dan membersamai pasukan perang yang dipimpin Rasul SAW saat dia tertinggal jauh karena keledainya begitu lemah tuk dipacu.

Maka jika hari ini kita masih asyik dengan urusan dunia kita dan melalaikan kewajiban dakwah dan berjamaah, cukuplah kematian yang menjadi nasehatnya.

Allahu `alam

*Usai subuh yang penuh berkah teriring lirih doa rabhitah tuk semua ikhwah. Ana uhibbuka fillah..

~Amin Agustin~

[piyungan online]
Apa Alasan Kita tidak Shalat Subuh Berjamaah di Masjid?

Apa Alasan Kita tidak Shalat Subuh Berjamaah di Masjid?

09:47
Ratusan Jamaah bersiap untuk melakukan shalat Subuh gabungan di masjid Fajar Baitullah, Puri Citayam Permai,Rawapanjang,Bojonggede,Bogor,Ahad (27/4). (Republika/Musiron)
Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
Sahabatku pria Muslim yang belum berjamaah subuh di masjid, apa alasan kalian tidak berjamaah Subuh di masjid ?...sibuk!...malas!...duit!,...susah! 

Berapa lama kalian akan hidup di dunia ini, mengapa urusan dunia lebih amat sangat diperhatikan, kalau urusan bisnis, keluar kota tetap berangkat tetapi mengapa masjid depan mata berat kaki melangkah, apa yang dicari... bukankah Arifin & kalian sebentar lagi akan mati!?

Jangan pernah terbuai dengan kehidupan yang penuh tipu daya ini. Simaklah Kalam Allah ini, "Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yg keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yg menipu" (QS al Hadid ayat 20). 

Jadikanlah kalian mujahid Subuh ditengah orang-orang yang tidak peduli lagi masjid. Ingat, adzan bukan panggilan muadzin tetapi panggilan Allah.

Subhanallah, inilah alasan hamba beriman mengapa semangat selalu berjamaah mesjid, karena, Imannya cintanya rindunya kepada Allah, bukankah kekasih senang selalu berada di Rumah Kekasih-Nya. Allah pun menyebut masjid sebagai Rumah-Nya ( QS An Nur 36).

Setelah mengetahui sekian banyak keutamaan berjamaah di masjid, pantaslah Rasulullah bersabda, "law habwah" merangkakpun hamba beriman tetap akan berjamaah di masjid. Ayooo sahabat shalehku, apalagi alasan kita, menunggu apalagi, mulai azamkan diri, mumpung ada sisa umur.

Ayoooo kita berjamaah ke masjid mulai waktu Subuh. Raihlah Kemulian dan keberkahan hidup dunia akhirat, Insya Allah...aamiin.
Sumber: Akun Facebook Ustad Muhammad Arifin Ilham
*ROL

Rezeki 26 Juta Setelah Riyadhah Shalat Dhuha

08:39
Ibadah adalah bekal. Ia merupakan satu-satunya alasan mengapa Allah Swt menciptakan kita di muka bumi ini. Ibadah tidak hanya diwajibkan kepada manusia, tetapi juga jin dan makhluk lainnya. Termasuk di dalamnya tetumbuhan dan hewan. Semuanya bertasbih, memuja-muji keagungan Allah Yang Mahamulia.
Ibadah adalah kebutuhan kita selaku makhluk-Nya. Allah Swt tak sedikit pun mendapat manfaat ketika semua makhluk beribadah kepada-Nya. Pun, Dia tak rugi sama sekali ketika semua makhluk durhaka dan menentang-Nya. Ibadah maupun maksiat, semua kembali kepada manusia, pelakunya.
Di antara bentuk Maha Pemurahnya Allah Swt, ‘abid –pelaku ibadah- selalu diberi aneka kelebihan dan imbalan. Baik di dunia maupun akhirat.
Sebut namanya Fulan. Ia adalah seorang ayah. Dalam rangka menjemput rezeki, ia bersilaturahim ke seorang sahabat. Sesampainya, ia berkisah. Dirinya akan membuka usaha. Modal yang dibutuhkan sekitar 26 juta. Sementara tabungannya tak sebanyak itu.
Sang sahabat yang dipersepsikan akan memberikan bantuan modal, hanya berkata, “Rutinkan shalat Dhuha.” Fulan tak bertanya mendebat. Ia pun pamit sambil berazzam untuk menjalankan saran sahabatnya itu.
Berjalan beberapa pekan, modal yang sedianya akan digunakan oleh Fulan tetap utuh. Malah sedikit berkurang untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Segala jenis usaha sudah dia lakukan, dengan kualitas terbaik.
Alih-alih mendapat tambahan modal, anak si Fulan malah sakit dan kudu dirawat di rumah sakit. Bukan sebentar, anaknya harus dirawat selama 2 pekan. Otomatis, selama itu pula, tak ada aktivitas usaha yang dia lakukan. Waktunya habis untuk menunggui dan mencukupi segala kebutuhan si sakit.
Dalam masa dua pekan itu, banyak sahabat dan keluarganya yang datang membesuk. Hingga kemudian, datanglah sahabat karib yang didatangi oleh Fulan tempo hari. Saat kedatangan sahabat itu, Fulan langsung merangkulnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Setelah emosinya stabil, barulah dia berkata, “Mas, aku mau buka usaha. Modal belum cukup, anakku malah dirawat lama di rumah sakit.”
Dengan senyum, sahabatnya hanya berkata sembari menepuk pundak si Fulan, “Sabar. Apakah pesanku sudah kau laksanakan dengan baik?”
Yang ditanya hanya mengangguk. Kemudian ditimpali oleh sahabatnya itu, “Insya Allah, hajatmu akan terkabul. Dan anakmu akan diberikan kesembuhan.” Kemudian keduanya berkata serentak, “Aamiin.”
Sahabatnya pun pamit. Ada urusan yang harus diselesaikan. Berselang hari, dibawalah pulang sang anak.
Tak disangka, sesampainya di rumah, banyak amplop yang terkumpul dari sahabat Fulan yang membesuk anaknya di rumah sakit. Setelah dibuka, semuanya berjumlah 26.400.000 rupiah.
Seperti tak percaya, Fulan langsung melakukan sujud syukur dengan air mata yang menderas. Ia kehabisan kalimat hingga yang meluncur dari lisannya hanyalah puja-puji atas kemahabesaran Allah ‘Azza wa Jalla.
Selepasnya, ia menelpon sahabat bijaknya itu. Kemudian diceritakan apa yag baru saja dialami. Dengan nada bercanda, sang sahabat berkata, “Kamu meminta 26 juta, terus diberi 26 juta 400 ribu. Berarti, yang 400 ribu ditransfer ke rekeningku saja. Hehe.”
Beruntunglah orang beriman. Ia meminta akhirat, dunia pun disuguhkan padanya. Ia meminta satu, dua dilimpahkan tanpa batas. Allah Mahakaya. Amat mudah baginya untuk menjadikan hamba-Nya menjadi kaya. Pun, sebaliknya.[]
*Diadopsi dari buku ON karya Jamil Azzaini. Berdasarkan kisah nyata.


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

Berjamaah, Bukan Batu Loncatan

10:44



By: Nandang Burhanudin

Pernahkah anda perhatikan, orang yang begitu aktif di masjid. Semua kegiatan ia jalani. Mulai dari muazin, marbot, bikin surat, hingga berangkat memfotocopy. Tanpa kenal lelah, ia berkeliling menuntaskan apa yang menjadi amanah tambahan: mengumpulkan sumbangan untuk masjid. Gaji kecil tak masalah. Yang penting tumakninah. Namun selang beberapa tahun kemudian, setelah "merasa" cukup. Ia pun hengkang. Ternyata, menjadi marbot masjid hanya batu loncatan, mengisi luang daripada tidak ada kegiatan.

Pernahkan anda perhatikan, orang yang begitu rajin "ngantor" di yayasan, ormas, orpol. Kafalah kecil tak masalah, yang penting mertua tak berkeluh kesah dan istri tak bersimbah airmata. Namun seiring dengan perkenalan yang makin meluas. Ia pun "hengkang". Ternyata, menjadi aktivis itu hanya batu loncatan, daripada berpeluh menjadi pengangguran.

Pernahkah anda perhatikan, sosok pengajar yang "meminta" pekerjaan untuk mengajar. Gaji kecil tak masalah. Yang penting ada kegiatan. Bicaranya teramat mengena. Katanya, menjadi guru itu sangat mulia. Berjuang membangun generasi harapan. Namun setelah lulus PNS atau ada pekerjaan yang lebih basah. Dalih dan alasan dibuat supaya hengkang. Ternyata menjadi guru itu hanya batu loncatan, daripada anak istri di-PHP.

Kawan. Sunnatullah perjuangan adalah bunyaanun marshush. Batu-bata yang tersusun rapi, membentuk kekuatan. Saya memahami, dalam berjamaah itu, bertopang pada niat awal. Bukan karena tidak ada kegiatan, lalu bergabung dalam sebuah jamaah. Nah saat Apa yang hendak dicari dari hidup berjamaah? Kontribusi. Memberikan kontribusi maksimum, sesuai dengan kadar kemampuan. Maka orientasi berjamaah, bukan karena ada gula yang akan kita bawa. Tapi karena kita menjalankan perintah Allah, berjuang dalam barisan.

Oleh karena itu, saya sangat bahagia tidak menjadi dan berada di posisi apapun. Waktu luang berlimpah. Kesempatan berkomunikasi tanpa sekat-sekat birokrasi. Maka kondisi ini sepatutnya digunakan untuk membangun kapasitas personal, bukan malah sibuk berkhayal. Perhatikan kinerja, kualitas diri, integritas, bila perlu tanyakan kepada yayasan, orpol, DKM, sekolah, apakah ada yang kurang dari kinerja yang selama ini dilakukan.

Namun sayangnya. Hal yang terjadi justru sebaliknya. Saat kecewa, kita tebar caci maki dan jala-jala cela. Seakan semua buruk. Dirinya yang baik. Lalu kita serang personal-personal di jamaah, padahal kita tak lebih dari timbal-timbal benalu jamaah. Ada tidak adanya kita, tidak menggenapkan atau mengurangkan. Wujuuduhu ka'adamihi. Saat kita tebar cela, sebenarnya menimpuk diri sendiri. Menepuk air di dulang, memercik muka sendiri. Jangan sampai mengeluhkan gaji, tapi fasilitas DKM, yayasan, orpol digunakan tanpa batas. Wajar jika setiap gajian selalu kurang, karena keberkahan telah hilang. Kemanapun kita pergi, jika mentalitasnya masih sebatas "batu loncatan", kita tak akan pernah mampu meloncat. Yakinlah itu!
8 Manfaat dan Keutamaan Shalat Dhuha yang Perlu Diketahui

8 Manfaat dan Keutamaan Shalat Dhuha yang Perlu Diketahui

09:21
Sample Image 

Mau melakukan sedekah meski tak memiliki uang? Ingin dicap Allah sebagai hamba yang bersyukur? Ingin hidup serba berkecukupan? Ingin diampuni dosa-dosa meski sebanyak buih di lautan? Ingin dibangunkan rumah di surga? Semuanya bisa diperoleh dengan melaksanakan shalat Dhuha!

Berikut ini 8 Keutamaan Shalat Dhuha yang perlu diketahui:

1. Waktu yang Sangat Penting
Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang yang menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta membinanya, demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”(QS. As-Syams:1-10).

Istilah dhuha dapat ditemukan pada beberapa tempat dalam Al-Qur'an. Kita dapat menemukan istilah dhuha kurang lebih pada tujuh tempat. Di satu tempat (QS Thaha [20]:59; AI-'Araf [7]:98; An-Nazi'at [79]:46), kata dhuha diartikan sebagai "pagi hari" atau sebagai "panas sinar matahari" di tempat lainnya (QS Thaha [20:119]). Istilah dhuha juga bisa mencakup kedua makna itu sehingga diartikan "sinar matahari di pagi hari" (QS As-Syams [91]:1).

Pada tempat lain (QS An-Nazi'at [79]:29), kata dhuha diartikan sebagai Siang yang terang. Namun, makna dhuha ini barangkali tidak merujuk pada keadaan terangnya siang di tengah hari yaitu waktu dzuhur.
Pada pembukaan surah AdDhuha, Allah berfirman, ”Demi waktu dhuha.” Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting.

2. Wasiat Khusus dari Rasulullah
“Shalat Dhuha adalah wasiat khusus dari Nabi ` kepada Abu Hurairah dan kepada seluruh umat beliau secara umum.” (Imam Thabari)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, ‘Kekasihku (Rasulullah) memberikan pesan (wasiat) kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan shalat witir’.” (HR. Bukhari)
Jelas dari hadits tersebut, bahwasanya Rasulullah mewasiatkan umatnya untuk sebisa mungkin merutinkan shalat Dhuha!

3. Shalat Dhuha Bernilai Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia
 “Diriwayatkan dari Buraidah a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Pada diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh tiga ruas. Ia memiliki kewajiban bersedekah atas setiap ruas tersebut.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah yang mampu melakukan hal itu, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Ludah di dalam masjid yang ia timbun (dibersihkan) atau sesuatu (penghalang) yang ia singkirkan dari jalanan (bisa mewakili kewajiban sedekah). Jika engkau belum mampu, dua rakaat shalat Dhuha sudah memadai untuk mewakili kewajibanmu bersedekah’.”
Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala,” (HR Muslim).

4. Ghanimah (keuntungan) yang besar
Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:
Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang.
Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”.
Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).
Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?”
Mereka menjawab; “Ya!”
Rasul SAW berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya,” (Shahih al-Targhib: 666)

5. Dibangunkan Sebuah rumah di surga
Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga,” (Shahih al-Jami`: 634)

Diriwayatkan dari Anas secara marfu‘, “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.”
Nabi Muhammad saw bersabda,”Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab al dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada  yang memanggil,’dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha?’inilah pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang (rahmat) Allah”.

6. Shalat Dhuha di Awal Pagi, Ganjaran Langsung di Sore Hari
Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata: Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).
“Diriwayatkan dari Nu‘aim bin Hammar a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah kamu merasa lemah (kehilangan kesempatan) untuk beribadah kepada-Ku dengan cara mengerjakan shalat empat rakaat di awal waktu siangmu, niscaya akan Aku cukupkan untukmu di akhir harimu’.” (HR. Abu Dawud)

7. Pahala Umrah
Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

8. Ampunan Dosa
Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan,” (HR Tirmidzi).

Semoga kita dikuatkan Allah untuk senantiasa melanggengkan shalat Dhuha.

sumber : disini

Keberkahan di Waktu Pagi

08:53
Di suatu masjid seperti biasa selepas shalat shubuh, seorang pemuda duduk di masjid sambil menunggu matahari terbit. Dia bukan hanya sekedar duduk santai ketika itu, tetapi dia membuka beberapa lembaran Al Qur’an yang telah dihafalnya dan dia mengulang-ulang untuk menguatkan dalam hatinya. Setelah itu, dia tidak lupa berdzikir dengan bacaan dzikir yang telah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamketika pagi. 

Namun, ada suatu kondisi yang berkebalikan. Di belakang dia terdapat seorang pemuda juga yang sebaya dengannya. Ketika sehabis shalat shubuh dan membaca dzikir setelah shalat, pemuda yang kedua ini malah mengambil tempat di belakang. Sambil bersandar di dinding dan akhirnya perlahan-lahan kepalanya tertunduk kemudian tertidur pulas hingga matahari terbit. Inilah sebagian kondisi kaum muslimin saat ini. Sehabis shalat shubuh di masjid, sebagian di antara kita ada yang memanfaatkan waktu pagi karena dia mengetahui keutamaan di dalamnya. Ada pula yang tertidur pulas karena telah dipengaruhi rayuan setan dan tidak mampu mengalahkannya.Perlu kita ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang sangat utama dan penuh berkah.

Tulisan berikut akan sedikit mengupas mengenai keutamaan waktu pagi dan bagaimana memanfaatkannya. Semoga Allah selalu memberi kita taufik untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah kita peroleh.

Himmah (Semangat Tinggi)

08:57
Himmah (semangat) adalah gejolak yang terus bergelombang, angin puyuh yang bergulung-gulung. Dia adalah lompatan ke puncak, dan terbang ke angkasa. Himmah adalah hati yang bergolak, cita-cita yang memandang jauh ke depan. Barangsiapa yang dikarunia himmah, maka semangatnya akan membawa dirinya berkelana walaupun dia tinggal di tempatnya. Dengan bermodalkan himmah seseorang akan mampu melakukan perjalanan jauh, walaupun dia duduk dirumah.

Kerenanya, belajarlah untuk berpacu dengan waktu, berkompetisi dengan malam-malam yang terus berlalu. Segeralah, segeralah, karena anda tergerus malam dan tertelan siang.

Jalan yang panjangnya satu mil, bisa ditempuh hanya dengan satu langkah. Kura-kura bisa menang atas serigala karena di terus melakukan perjalanan dengan tekun walaupun dia melangkah sangat lambat. Sebab serigala menggantungkan diri pada kecepatan langkahnya sehingga dia terpaku diam.

Tali itu memberi bekas pada batu, karena terus menerus digoreskan. Gunung menjadi berlubang karena air itu terus menetes. Barangsiapa yang tekun dan rajin, maka dia akan tumbuh berkembang.

Manusia itu bentuknya, dalam rupanya, dagingnya, darahnya sama. Mereka hanya berbeda dengan semangat. Sehingga satu dari mereka dianggap sama dengan ribuan manusia.

Sungguh mengherankan jika ada orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk membersihkan kecoa di rumah dan nyamuk atau hanya menonton TV mengikuti berita gosip, menonton sepak bola.

Hendaknya kita dalam hidup ini kita mempunyai semangat tinggi yang tidak mengenal lelah. Semua tenaga dan kemampuan yang kita miliki, kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang berfaedah. Sama sekali tidak pantas apabila ada seorang mukmin yang kehilangan semangat untuk meraih cita-cita tinggi.

Motivasi adalah semangat yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Orang yang mempunyai motivasi kuat jika ia merasa dirinya masih belum sampai cita-cita mulia yang menjadi targetnya.

Ibnu Qayyim berkata, “Tanda-tanda benarnya keinginan keras adalah jika keinginan dan perhatian seseorang adalah Ridha Rabbnya dan bersiap siaga setiap saat untuk berjumpa dengan-Nya, dia akan menyesal atau gusar apa bila waktu berlalu bukan dalam keridhaan Dia. Segala hal urusannya, kesibukannya adalah dia tidak menaruh perhatian dan harapan kepada selain Allah baik dikala siang atau malam.”

Kesadaran dan semangat tinggi bukanlah monopoli para intelektual, pejabat, guru atau ustad saja, setiap orang mempunyai potensi yang sama untuk menumbuhkan kesadaran dan semangat yang tinggi, mungkin pada hari ini anda menjadi murid seseorang, namun besok anda bisa juga sudah menyamai guru anda dan lusa anda sudah mengungguli kemampuan guru anda.

Rasulullah saw memberi semangat agar mempunyai motivasi (semangat) yang tinggi yaitu agar manusia mendapatkan surga firdaus

“Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan yang dipersiapkan oleh Allah swt untuk mujahidin fisabilillah. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan yang lain adalah sejauh jarak langit dan bumi. Bila kalian memohon kepada Allah swt, mohonlah untuk dianugerahi surga al-firdaus karena ia adalah tingkatan surga terbaik dan tertinggi. Saya melihat di atasnya ada 'arsy Tuhan dan ia menjadi sumber mata air sungau-sungai yang ada di surga (HR Bukhari & Ahmad)

Makanya tak heran begitu semangatnya pasukan Hamas melawan tentara-tentara Israel, karena ingin mendapatkan surga terbaik dan tertinggi. Dan banyak berbondong-bondong pergi ke Suriah untuk berjihad membela Islam.

Motivasi tinggi menutupi amal yang kurang sempurna

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan mana hal-hal yang termasuk kebaikan dan mana hal-hal yang termasuk keburukan. Kemudian Dia menerangkan bahwa barang siapa berkehendak melakukan satu kebajikan kemudian ia tidak jadi melakukannya, maka Allah menetapkan satu pahala kebajikan secara utuh kepada orang tersebut. Apabila ia berkehendak melakukan kebajikan kemudian melakukannya, maka Allah menetapkan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kebajikan, bahkan pahala yang berlipat-lipat kepada orang tersebut. Dan barangsiapa berkehendak melakukan keburukan, namun ia tidak jadi melakukannya, maka Allah menetapkan satu pahala kebajikan secara penuh untuknya. Apbila ia berkhendak melakukan keburukan dan kemudian melakukannya, maka Allah menetapkan satu ganjaran dosa kepadanya (QS HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)

“Barangsiapa dengan tulus hati memohon mati syahid kepada Allah maka Allah akan menempatkannya pada derajat orang-orang yang mati syahid, meskipun nantinya ia mati di atas kasur (HR Mulsim)

Allah swt berfirman, “Siapa pun yang berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapatkan peluang yang sangat besar dan rezeki yang sangat banyak di muka bumi ini. Siapa pun yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia mati dalam perjalanan hijrah, maka pasti Allah akan memberikan pahala kepadanya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada para hamba-Nya yang berhijrah (QS An-Nisaa[4]100)

Orang yang telah menyiapkan diri untuk berjihad, tetapi terlebih dahulu meningal dunia, oleh Rasulullah saw juga dianggap sebgaai syahid. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah azza wa jalla memberikan pahala kepadanya sesuai dengan kadar niatnya (HR Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad)

Barangsiapa akan melakukan shalat malam, tetapi ia tertidur, maka ia mendapat kan pahala shalatnya tersebut dan tidurnya dianggap sebagai dispensasi (HR Abu Dawud, Ahmad)

Semangat para salafus sholeh

Al-Mutabbi berkata, “Jika kamu mempunyai kemampuan untuk mengungguli ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Mereka adalah laki-laki biasa, kamu juga seperti mereka (laki-laki biasa). Orang yang hanya duduk-duduk saja tidak mau berusaha meningkatkan kualitas dirinya disebabkan rendahnya semangat dan rendahnya kemauan. Sadarlah kamu berada di tengah-tengah medan kompetisi waktu berjalan begitu cepatnya janganlah kamu terus-terusan bermalas-malasan! Segala hal yang terlepas dan terlewat hanyalah disebabkan kamu ini malas-malasan, segala sesuatu yang kamu gapai itu karena kamu mau berusaha dan bersungguh-sungguh. Perumpamaan semangat dalam hati seperti gejolak air dalam tungku yang dipanaskan.

Ketika kematian datang menghampiri, Ibnu Taimiyah berkta kepada orang yang membacakan al-Qur'an di sisinya, “Bacakan al-Qur'an. Syahkhul Islam tersebut meninggal ketika al-Qur'an yang dibacakan untuknya sampai pada ayat “Orang-orang yang bertakwa kepada Allah masuk kedalam surga yang mempunyai taman-taman dan sungai-sungai. Penghuni surga duduk di tempat-tempat yang disenangi di sisi Allah, Maharaja yang memiliki kekuasaan tak terkira besarnya (QS Al-Qamar [54]54-55)

Imam Ahmad pernah ditanya sama sesorang, kapan anda beristirahat? Jawab beliau, “Aku beristirahat saat aku berada di surga.

Amir bin Qais hendak meninggal dunia ia menangis. Ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis? Imam amir menjawab, “Bukannya saya menangis karena takut mati atau karena cinta dunia. Akan tetapi, tangisanku ini karena (tidak bisa lagi) berpuasa di siang hari yang panas dan sholat tahajud di malam yang dingin. Beginilah semangat mereka disaat kematian datang ingin sekali mereka melakukan amal-amal kebaikan.

Pernah suata saat Ibnu Taimiyah lari-lari di pegunungan Dasmakus di suriah, di tanya sama seseorang kenapa anda berlari-lari, beliau menjawab saya mempersiapkan diri, sewaktu-waktu musuh-musuh Allah menyerang kesini. Perhatikan bagaimana semangatnya beliau disaat tidak perang, beliau mempersiapkan diri. Bagaimana dengan kita sudahkah mempersiapkan diri untuk berjihad?

Ibrahim bin  Adham berkata, “Aku pernah mengunjungi orang ahli ibadah yang menderita sakit. Maka, ketika melihat kedua kakinya, ia menangis. Lalu, aku bertanya, “Kenapa kamu menangis? Ia menjawab, “Kedua kaki ini belum pernah terkena debu medan perang. Lalu ia menangis lagi maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang yang membuatmu menangis? Ia menjawab, “Aku menangis hariku yang berlalu tidak puasa dan menangisi malamku berlalu tidak qiyamulail. Wahai saudaraku pernah kita menangis saat sakit karena tidak bisa melakukan amal ibadah, ataukah kita manangis karena sakit saja?  

Abu Muslim al-Khulani sengaja menempatkan cambuk di dinding rumahnya, jika dia merasa malas melakukan ibadah. Beliau mengambil cambuknya dan memukul-mukul ke betisnya sambil berkata, “Kamu lebih pantas dipukul daripada hewan ternakku.”

Beliau juga pernah berkata, “Mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw bukanlah monopoli para sahabat saja. Demi Allah, saya akan berusaha untuk bergabung dan mengikuti jejak mereka hingga mereka tahu bahwa di belakang mereka ada generasi tangguh yang mulia. Lihatlah saudaraku semangatnya.

Imam al-Hasan berkata, “Barangsiapa menyaingimu dalam urusan agamamu saingilah ia! Akan tetapi, bila ada orang yang menyaingi mu dalam masalah duniawi, hendaknya kamu melemparkan dunia itu kelehernya.”

Imam Syafi'i pernah ditanya, “Seperti apakah kecintaanmu terhadap ilmu? Imam Syafi'i menjawab, “Saya akan selalu mendengar kan ilmu layaknya orang yang belum pernah mendengarkannya. Sampai-sampai semua anggota tubuhku ingin mempunyai telinga supaya bisa merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh telinga.” Ketika ditanya lagi, “Seperti apa obsesimu terhdap ilmu? Ia menjawab, “Saya ingin merasakan dan mengumpulkan semua ilmu serta merasakan kenikmatan sebagaimana orang-orang ingin merasakan kenikmatan dan mengumpulkan beragam bentuk gemerlap duniawi. Ia ditanya kembali, “Seperti apakah semangatmu mencari dalam mencari ilmu? Ia menjawab, “Seperti usaha seorang ibu dalam mencari anak satu-satunya yang hilang. “ Subhanallah

Menjelang kematiannya, Abu Musa al-Asy'ariy selelu berusaha meningkatkan ibadahnya hingga ada orang yang menyarankan kepadanya, “Hendaknya anda mengasihi diri anda sendiri!

Abu musa menjawab, “Tahukah anda? Apakah kuda teleh dilepas dan mendekat tujuannya, ia akan mengeluarkan semua tenaga yang dimilikinya, sisa umurku sangat sedikit.

Rabi bin Khutsaim telah menggali dirumahnya. Jika hati sedang keras atau malas. Ia pun masuk di dalamnya lalu berbaring sampai beberapa lama, lantas ia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku ke dunia agar aku berbuat amal yang saleh terhadap apa yang aku tinggalkan... (AL-Mukminun 99-100) ia mengulang-ulang lalu menjawabnya, “Wahai Rabi, engkau telah dikembalikan ke dunia, maka beramallah !!!!

Abu Ishaq saat meninggal dunia dibawah bantalnya ada secarik kertas yang bertuliskan, “SESEORANG MEMBISIKKAN PERBAIKI AMALMU, SUNGGUH TELAH DEKAT AJALMU, anaknya berkata, bila ayahnya merasa malas beramal ia mengeluarkan kertasnya dibacanya lagi lalu muncul semangat !

Amir bin Abdullah saat meregang nyawa ia mendengar azan ia berkata angkatlah aku, mereka bertanya mau kemana? Tanya orang-orang ke masjid dalam kondisi seperti ini ia menjawab, Subhannalah apakah aku tidak menjawab azan padahal aku mendengar kemudian mereka memapah ia sempat shalat satu rekaat saja dalam keadaan sujud ia meninggal. Subhanallah.

(Abu Azzam)

*diambil dari piyungan online
Seputar Maulid Nabi, Kata Felix Siauw

Seputar Maulid Nabi, Kata Felix Siauw

13:23
http://fc05.deviantart.net/fs70/i/2013/026/1/8/maulid_by_alihamidboyz-d5srl6m.jpg 
01. Maulid Nabi berarti hari kelahiran Nabi Muhammad saw. | menurut mayoritas ulama yaitu 12 Rabiul Awwal

02. dalam sirah Nabi kita tidak menemukan riwayat perayaan secara khusus oleh Nabi di hari lahirnya | ataupun melakukan ritual tertentu

03. pun di zaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in serta ulama salaf | tidak ada yang mengkhususkan hari lahir Nabi saw

04. peringatan khusus atas Maulid ini baru ada di generasi setelahnya | ada sumber bahwa Salahuddin Al-Ayyubi yang pertama mengawalinya

05. dalam usahanya membebaskan Al-Quds (Yerusalem) dari penjajah tentara salib | Salahuddin memperingati Maulid Nabi Muhammad saw

06. tujuan peringatan Maulid ini mempertinggi semangat jihad kaum Muslim | dengan membacakan kisah hidup Nabi Muhammad saw

07. pada 1184 M Salahuddin megumpulkan ulama untuk mengisahkan kisah Rasulullah dalam sebuah syair | untuk menyemangati Muslim

08. adalah Syaikh Ja'far Al-Barzanji yang akhirnya terpilih untuk mengisahkannya | jadilah syair "Barzanji" seperti kita kenal sekarang

09. "Barzanji" ini ditulis untuk meningkatkan kecintaan ummat pada Nabi | yang diharapkan akan mencontoh perjuangan beliau saw

10. alhamdulillah semangat dan persatuan kaum Muslim diawali peringatan ini | lalu Al-Quds dapat dibebaskan pada 1187 M oleh Muslim

11. pada masa kini ada pro-kontra tentang "Maulid Nabi" ini | sebagian mengatakan bid'ah (penyimpangan) sebagian lagi membolehkannya

12. yang menganggapnya penyimpangan (bid'ah) | berdalil bahwa Muslim dilarang merayakan apapun yang tidak dirayakan Rasulullah

13. sedangkan yang membolehkan "Maulid Nabi" bersandar pada dalil | bahwa Imam Suyuthi dan Ibnu Hajar membolehkannya

14. lalu bagaimana mendudukkan kedua perkara pro-kontra Maulid Nabi ini? | kita coba sedikit mengupasnya..

15. dalam Islam, bid'ah itu sesuatu yang dilarang Rasulullah | pelakunya berada dalam kesesatan, dan kesesatan ada di neraka

16. sejauh yang saya pelajari (semoga Allah maafkan bila tersilap) | bid'ah adalah penyimpangan dalam hal ibadah, bukan selain ibadah

17. contoh bid'ah misalnya menambah shalat subuh dari 2 rakaat menjadi 3 rakaat | atau shalat isya dari 4 rakaat jadi 3 rakaat, ini bid'ah

18. namun bila penyesuaian tatacara (wasilah), maka dalam kajian saya ini bukan bagian bid'ah | misalnya peringatan "Maulid Nabi"

19. maka bid'ah ini hanya berkaitan dengan ibadah ritual (ibadah mahdhah) saja | sedangkan perantaranya (wasilah) tidak termasuk bid'ah

20. misalnya lagi, dahulu Al-Qur'an di masa Rasul dan sahabat ditulis di kulit atau tulang | masa kini di laptop dan HP, itu bukan bid'ah

21. dahulu di masa Rasulullah pendidikan dilakukan secara tatap muka | masa kini bisa dengan online maka sah, tidak bid'ah

22. maka peringatan "Maulid Nabi" bisa disamakan dengan membaca Sirah Nabi | hanya saja dilakukan secara berjama'ah

23. di peringatan Maulid Nabi kita diingatkan dengan kisah beliau dalam berjuang | semakin mencintai dan menyayangi beliau saw

24. maka peringatan "Maulid Nabi" adalah bagian dari Majlis Ta'lim, Majlis Ilmu | mendatanginya insyaAllah mendapat ilmu dan manfaat

25. apalagi "Barzanji"-nya diartikan dalam bahasa Indonesia, malah lebih bagus lagi | banyak yang tadinya nggak paham jadi paham kisah Nabi

26. jadi justru "Maulid Nabi" ini harus jadi momentum persatuan dan pengingat | bagaimana perjuangan Nabi untuk Islam dan kita

27. lalu bagaimana bila ada pendapat lain yang tetap menolak Maulid Nabi? | ya sudahlah, sama-sama saudara, selama berdalil, legowo aja :)

28. sesama Muslim itu harus saling menjaga, saling sayang | masak "Maulid Nabi" dijadikan alasan ribut dan rusuh saudara sendiri? :)

29. yang punya dalil ikut Maulid Nabi ya jalan | yang yakin Maulid Nabi itu bid'ah ya tinggalkan | sesama Muslim harus saling memahami

30. ingat-ingat bahwa memperingati "Maulid Nabi" bisa jadi berpahala, bisa jadi tidak | tapi rusuh sesama Muslim sudah jelas menyedihkan

31. jadi clear ya :) | yang penting woles dan adem sama saudara sendiri | jangan galak, jangan ngamuk | yang tau ilmu tentu baik perangainya

* Felix Siauw
Mengapa Islam Gabungkan Kata Iman dan Ilmu, Ini Alasannya?

Mengapa Islam Gabungkan Kata Iman dan Ilmu, Ini Alasannya?

09:32
Ilmuwan Muslim berhasil memberikan penemuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan penerus saat ini. 
Oleh: Ibrahim Ar-Rasyid Ramadhan 

Berbahagialah bagi orang yang beriman dan terus bertambah kuat imannya dari hari ke hari dan juga senatiasa diiringi oleh penambahan ilmu, baik itu ilmu syar'i maupun kauniy. Mengapa demikian? Karena, Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat lebih tinggi seperti firman-Nya dalam Alquran surah al-Mujaadilah ayat 11: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." Subhanallah.

Namun, mengapa Allah SWT menggandengkan antara kedua kata ini, yaitu iman dan ilmu? Karena kedua kata tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang sangat erat, di mana jika orang bertambah ilmunya maka semestinya bertambah jugalah imannya, mirisnya yang sedang banyak terjadi di zaman smartphone sekarang ini banyak orang yang berilmu tetapi iman mereka berkurang, mereka meniggalkan kewajiban mereka sebagai hamba Allah SWT terutama di poin salat lima waktu.

Sepertinya hal tersebut sudah menjadi sebuah budaya baru bagi para penuntut ilmu di zaman yang serbamodern ini, khususnya bagi negara kita Indonesia yang di mana penduduk di negeri khatulistiwa ini mayoritas memeluk agama Allah, yaitu Islam, maka sangatlah di sayangkan jika seorang penuntut ilmu tak mengerti apa yang ia dapat dan tak juga mengamalkan apa yang ia pelajari serta tak menambah keimanannya sedikit pun.

Naudzubillah semoga Allah menjauhkan diri kita semua dan seluruh umat Islam dari hal yang sangat miris tersebut. Amin.

Maka dari itu marilah kita mulai memuhasabah diri kita dari sekarang, sudahkah kita menjadi orang yang berilmu dan beriman? Mengapa? Karena kedua hal tersebut akan bermanfaat bagi diri kita di dunia maupun di akhirat nanti dan juga barang siapa yang berilmu niscaya Allah SWT dekat dengannya seperti sabda Rasulullah SAW.

"Tuntutlah ilmu,sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza Wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat."

Sudahlah jelas firman dan sabda nabi-Nya, maka dari itu mari kita perbaiki iman dan ilmu kita untuk menjadi hamba Allah SWT yang dekat dan tinggi di sisi-Nya, dan akan mendapat surga Firdaus kelak di hari akhir nanti. Jadi tuntutlah ilmu mulai sekarang, kelak akan beguna bagi akhirat dan dunia kita di masa yang akan datang.

Namun tak cukup hanya dengan ilmu saja, hiasilah keilmuan dengan keimanan kepada yang Maha Esa Allah SWT dengan demikian diri dan jiwa kita akan selalu dekat dan selalu dinaungi perlindungan  Allah SWT.

sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Dahsyatnya Manfaat Membaca Al-Qur’an setelah Subuh dan Maghrib

14:34
Menurut hasil penelitian ternyata membaca Al-Qur’an sehabis Maghrib dan sesudah Subuh itu dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80%, karena di sana ada pergantian dari siang ke malam dan dari malam ke siang hari di samping itu ada tiga aktifitas sekaligus, membaca, melihat dan mendengar.

Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Diantaranya:
- Menyedikitkan makan
- Membiasakan melaksanakan ibadah salat malam
- Membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf

Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an.

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan:

• Fisiologis yang sangat besar
• Penurunan depresi, kesedihan
• Memperoleh ketenangan jiwa
• Menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya.

Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.

Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Al-Qur’an berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mndengarkannya.

Mari kita mulai luangkan waktu beberapa menit dari 24 jam di hari kita. Semoga bermanfaat buat kita semua bersama keluarga kita. Semoga kita kelak menjadi penghuni Surga, Aamiin Yaa Rabb.
[AW/panjimas.com]

Delapan Fungsi Rumah Bagi Orang Beriman

08:53
Rumah bagi kaum muslimin bukan sekedar bangunan untuk berteduh dari hujan dan terik, atau sarana mencari kehangatan dari dingin dan angin yang menusuk tulang. Rumah bagi orang beriman, adalah salah satu sarana spiritual yang memiliki banyak makna.
KH M Arifin Ilham, melalu Fans Page-nya menjelaskan fungsi rumah itu, “Rumah bagi orang beriman bukan hanya untuk berteduh, tempat tinggal keluarga apalagi hanya untuk status sosial.” Kiyai kelahiran Banjarmasin ini menerangkan, “Orang beriman itu mengetahui persis tujuan hidup yang sebentar ini.”
Selanjutnya, dai muda yang sebelumnya menetap di Depok Jawa Barat ini menjelaskan fungsi rumah sebagai berikut:
1. Al-Musholla. Rumah merupakan tempat ibadah untuk meraih ridha Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, "Terangilah rumah tanggamu dengan bacaan al-Qur’an dan shalat." Shalat dalam hadits ini adalah shalat-shalat sunnah. Karena keutamaannya, shalat wajib berjamaah di masjid, kecuali bagi muslimah.
2. Al-Madrasah. Rumah adalah sekolah. Ayah dan Ibu adalah gurunya. Anak-anak menjadi muridnya.
3. Al-Junnah. Rumah bagi orang beriman adalah benteng penjagaan. Ialah benteng iman keluarga dan benteng dari penyakit sosial.
4. Al-Maskanah. Rumah orang beriman adalah pelipur lara dan pelepas duka untuk ketenangan.
5. Al-Maulud. Yakni tempat untuk memperbanyak keturunan umat nabi Muhammad Saw.
6. Al-Markaz. Rumah hendaknya menjadi tempat untuk mempersiapkan generasi dakwah yang tangguh.
7. Al-Mahya’us sunnah. Kediaman orang beriman hendaknya digunakan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah. Dimulai dari cara makan, minum, adab hubungan suami istri, dan sebagainya.
8. Al-Marham. Ialah forum liqo’ (pertemuan), shilaturrahim dengan tetangga dan sahabat mukmin lainnya. 
 
*bersamadakwah.com
Ini Amal Ibadah yang Pas

Ini Amal Ibadah yang Pas

10:46
Anas ra berkisah, ada tiga orang datang menemui istri-istri Rasulullah untuk menanyakan ibadah baginda nabi. Saat diberitahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka merasa sangat  kecil. Rasulullah SAW yang sudah dijamin mendapat ampunan dan surga Allah SWT ternyata melaksanakan ibadah 'berat'. Sungguh terasa sangat jauh dibanding dengan mereka.

Orang pertama pun bertekad dan menyatakan akan shalat malam terus menerus. Orang Kedua akan puasa sepanjang tahun tanpa henti. Orang ketiga akan menjauhi perempuan dan tak akan menikah selamanya.

Ketika mendengar niat ketiga orang itu, Nabi bersabda, “Benarkah kalian yang mengatakan akan shalat malam terus menerus, akan berpuasa setiap hari, dan tidak akan menikah selama hidup? Bukankah, demi Allah, aku orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun demikian aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi wanita? Barangsiapa tidak menyukai sunahku maka ia bukan golonganku.” (HR Bukhori dan Muslim).

Sebagaimana sabda Nabi di atas, kita tidak dibenarkan untuk melaksanakan agama dengan cara yang berlebih-lebihan. Untuk mengukur kadar ibadah yang pas, tentu tidak mudah. Oleh karenanya, di samping memiliki tolok ukur ibadah Nabi, juga harus melihat para sahabat serta sikap toleransi Nabi terhadap apa yang diamalkan para pengikutnya.

Pada waktu berbeda, masih dikisahkan Anas bin Malik, Rasulullah SAW menerangkan tentang laki-laki calon penghuni surga. “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian salah seorang ahli surga." Ketika diketahui orangnya, seorang sahabat Abdullah bin Amr meneliti dengan bertamu bermalam di rumahnya. Setelah diamati ternyata ibadah orang itu biasa-biasa saja, bahkan si peneliti sendiri merasa ibadah dia jauh lebih baik. Setelah berdialog dan didalami maka diketahuilah bahwa kelebihannya adalah “tidak pernah berlaku curang” dan “tidak iri” atas kelebihan yang diberikan Allah kepada orang lain. Jadi, kekuatannya ternyata ada pada mental and moral attitude.

Dalam Alquran disebutkan, orang yang berlebih-lebihan dalam beragama dikaitkan dengan doa dan pendekatan diri kepada Allah. Ketika menderita, dia intensif berdoa, tapi saat lapang dia menyimpang. “Dan, apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi, setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.” (QS Yunus 12).

Inilah karakter kaum musyrifin (orang yang berlebih-lebihan), yaitu ketika ditimpa ujian hidup berupa kesulitan maka ia berdoa dengan khusyuk setiap waktu, mendekat dan menangis agar Allah menolong untuk segera melepaskan kesulitan yang dirasakannya itu. Pada saat Allah SWT melepaskan kesulitan itu, dia lupa diri. Seolah berubahnya keadaan itu sepenuhnya disebabkan oleh usaha dirinya. Bahkan, dengan kesenangan yang Allah berikan itu justru perilakunya berubah menjadi dekat dan akrab dengan kehidupan maksiat.

Amal ibadah yang pas adalah ia yang beribadah dengan baik dan berdoa dengan khusyuk serta situasi yang berubah tidak mengubah kedekatannya kepada Allah. Tidak iri atas kelebihan orang lain, selalu melihat diri cukup dan bersyukur. Sabda Nabi, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah memandang orang yang ada di atas kalian agar tidak meremehkan  nikmat karunia Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR At Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah). [Khazanah republika.co.id ]