Showing posts with label Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Muslimah. Show all posts

Hukum Perempuan Tidak Menutup Aurat yang Masuk ke Masjid

08:51
Sesungguhnya masjid adalah rumah Allah ta’ala di atas bumi. Allah ta’ala berfirman, “Dan masjid-masjid itu adalah milik Allah, janganlah kalian berdoa ke selain Allah” (Al-Jin 18). Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya rumah-rumahku di atas bumi adalah masjid-masjid, dan para pengunjungnya adalah yang meramaikannya.”

Seorang pengunjung sudah seharusnya menghormati siapa yang dikunjunginya, dan memberikan haknya berupa penghormatan dan sejenisnya. Dan ini terjadi antara manusia, lalu bagaimana dengan Tuhannya manusia? Tentu jauh lebih utama!

Allah ta’ala mewajibkan seorang wanita untuk berpakaian tertutup karena seluruh ulama fiqih bersepakat bahwa seluruh tubuh wanita merdeka (bukan budak) itu aurat kecuali muka dan telapak tangan.
Maka ketika seorang wanita ingin memasuki masjid, dia diharuskan untuk beradab layaknya adab orang yang ingin bermunajat, berdoa kepada Allah ta’ala. Dan adab munajat kepada Allah itu harus menurut aurat.
Perlu diketahui, bahwa hukum dasar yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad – Shallallahu ‘alaih wa sallam- untuk wanita ialah bahwa wanita itu dia di rumahnya dan tidak keluar kecuali ada kebutuhan yang membuatnya keluar dari rumah seperti kerja, mengunjungi orang tua dan sanak saudar atau juga berbelanja kebutuhan rumah dan sejenisnya.

Ini didasarkan oleh firman Allah ta’ala surat Al-Ahzab ayat 33, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”
Dan sejatinya, seorang wanita itu afdhalnya melakukan shalat di rumahnya, dan lebih afdhal lagi itu dikerjakan di kamar rumah yang tidak terlihat oleh siapapun. Dalam Musnad-nya, Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Humaid, istri dari Abu Humaid Al-Sa’idy:
Bahwasanya ia (Ummu Humaid) datang kepada Nabi dan berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya sangat menyukai shalat bersamamu (di masjid).”

Nabi menjawab, “Aku sudah tahu jika kamu suka shalat denganku, namun shalatmu di rumahmu (ruangan khusus) lebih baik daripada shalatmu di kamarmu, dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripda shalat di rumahmu, dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku.”
Lalu dia (Ummu Humaid) diperintahkan untuk membuat masjid di tempat yang paling pojok dalam rumahnya dan yang paling gelap, setelah itu dia shalat di sana hingga dia menemui Allah Azza Wa Jalla. (HR. Imam Ahmad no. 26550)

Dan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.” (HR Muslim no. 445)

Sheikh Abdul Adzim Abadi mengatakan ketika menjelaskan hadits ini: “Alasan kenapa shalat wanita lebih baik di rumahnya dibanding di masjid adalah terjaga dari fitnah. Dan ini dikuatkan lagi dengan apa yang telah terjadi pada wanita-wanita yang justru berpakaian tidak sopan, terbuka (Tabarruj) dan memamerkan perhiasan, dan juga seperti apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah” (‘Aun Al-Ma’bud 2/193)

Untuk itu, seorang wanita haruslah berhati-hati dalam hal di mana dia harus melaksanakan shalatnya, terlebih jika itu tempat umum. Dan sebisa mungkin untuk mencari tempat shalat yang sekiranya tidak terlihat oleh para lelaki. Dan kalau memang sudah masuk waktu shalat namun ia tidak bisa mennemukan tempat yang tidak terlihat kecuali itu, maka tidak mengapa.

Kalau saja dalam perihal shalat yang memang ibadah, syariat sangat menjaga ini, apalagi kalau itu perkara di luar shalat, maka jauh lebih utama untuk lebih bisa menjaga.

Dan untuk itu semua, bawah sejatinya wanita tidak diperkenankan masuk masjid kecuali ada kebutuhan menuntut itu. Apabila ada kebutuhan seperti ingin mengikuti halaqah Al-Quran atau juga yang lainnya, maka seorang wanita wajib menjaga dirinya dengan berpakaian yang syar’i, yaitu menutup auratnya, yakni seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya, karena ini adalah kadar yang disepakati oleh ulama untuk terbuka.

Kalau kemudian ada wanita yang menyelisih ini, artinya ia membuka aurat dan kemudian memasuki masjid, maka ia telah menyelisih Al-Quran dan Sunnah dan ia telah bermaksiat kepada Allah ta’ala karena melanggar perintahnya. Apalagi banyak dari wanita Indonesia (biasanya) menghiasi dirinya dengan berbagai wewangian yang sejatinya itu mengundang laknatnya malaikat.

Dalam Musnad-nya, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits bahwa, “Siapa wanita yang berjalan dengan wewangian (yang kuat dan menyengat) depan suatu kaum lalu mereka mencium bau wangi itu, maka ia adalah seorang pezina.” Dan orang yang berzina dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , termasuk juga orang yang bermaksiat, ia juga dijauhkan dari rahmat Allah ta’ala sampai ia taubat dan kembali.

Untuk itu, seyogyanya seorang wanita khususnya wanita Indonesia ini untuk menutup auratnya, dan berpakaian pakaian yang sesuai syariah sebagaimana yang telah disebutkan diatas untuk tidak memakai wewangian yang menyengat, berbicara dengan suara kencang, tertawa yang terus menerus atau juga yang lainnya, jika memang ia ingin masuk masjid.
Wallahu a’lam.

Prof. DR. Murad Mahmud Haidar
(fauziya/fimadani/muslimahzone.com)
Bunga Cantik di Tengah Padang Rumput

Bunga Cantik di Tengah Padang Rumput

09:12
 
Siapa di antara anda yang belum pernah mendengar pepatah yang mengatakan “Tak kenal maka tak cinta?”. Tentu semuanya sudah pernah mendengarnya, baik pada waktu pelajaran peribahasa di Mata Ajaran Bahasa Indonesia atau dalam pergaulan sehari-hari karena pepatah ini kerap kali digunakan orang. Sekarang, malah ada sedikit perubahan dan penambahan kata dalam pepatah tersebut. Yaitu menjadi "Tak Kenal Maka TaÂ’aruf."

Berbedakah keduanya ?

Dari kedua kalimat tersebut, sebenarnya ada perbedaan arti meski hanya sedikit dan tipis sekali. Taruh sebuah permisalan. Jika anda bertemu dengan seseorang yang tidak anda kenal sama sekali, tentu anda ingin mengenalnya lebih jauh dan keinginan untuk mengenalnya itu begitu kuat muncul dalam diri anda. Anda ingin tahu siapa namanya, dimana dia tinggal, apa kegiatannya dan segala sesuatu yang menyelingkupi kehidupan teman baru anda itu. Dalam kondisi seperti ini maka pepatah ‘yang baru’ akan diterapkan, “Tak Kenal Maka TaÂ’aruf.”

Tahukah anda bahwa sebenarnya dalam proses perkenalan itu telah terjadi sebuah proses lain yang juga berkembang dalam diri kita. Yaitu sebuah proses pemilahan kelompok teman. Pada waktu kita mulai melancarkan rangkaian pertanyaan padanya tanpa kita sadari yang kita cari adalah kesamaan dan kesesuaian dalam beberapa hal yang sekiranya akan menjadi perekat perkenalan tersebut.

“Eh.. suka baca buku nggak ?” atau “Oh, kamu tinggal disana yah ? Hmm, aku punya teman di sana, kenal sama A nggak yah, dia tinggal di blok Z.”

Proses perekat hubungan inilah pada banyak orang diartikan sebagai sebuah proses “Tak Kenal maka Tak Cinta.”. Tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya tidak melulu arti pemahaman sebuah perkenalan akan berakhir dengan sesuatu yang manis seperti yang diharapkan dalam pepatah tersebut. Ada kalanya, setelah sebuah perkenalan terjadi, lalu pengenalan diri masing-masing berlanjut pada hal yang lebih jauh, sebuah hubungan ‘perkenalan’ bisa jadi ikut berakhir pula seiring dengan perpisahan yang terjadi dalam sebuah pertemuan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sudah menjadi sebuah kebutuhan manusia untuk dapat memperoleh kepercayaan dan rasa aman dalam dirinya. Inilah yang terjadi dalam proses pemilahan kelompok teman yang baru kita kenal. Yup. Ada sebuah proses lain dalam sebuah perkenalan yang tanpa kita sadari telah menggiring kita untuk melakukan sebuah pemilahan yang sangat bersifat subjektif karena kebutuhan kita akan rasa percaya dan dan rasa aman tersebut.

Tanpa kita sadari kita mulai melakukan pemilahan dan pencarian data apakah dia cukup bermanfaat sebagai seorang teman ataukah tidak, ada sebuah istilah yang mungkin lebih pas tapi konotasinya pada beberapa orang mungkin menyakitkan telinga yang sensitif, yaitu “seberapa pantas orang yang baru anda kenal itu bisa menjadi teman anda”.

“Seberapa pantas…”, terdengar sangat arogan dan tidak bersahabat yah? Tapi meski terdengar sangat tidak sopan, memang itulah yang sesungguhnya terjadi dalam sebuah proses perkenalan. Dalam alam pikiran sederhana, bagaimana mungkin kita akan bisa meletakkan rasa percaya kita pada seseorang yang tidak kita kenal? Dalam alam pikiran sederhana, bagaimana mungkin kita akan merasa aman pada seseorang yang tidak kita kenal? Sekali lagi, dalam alam pikiran sederhana, bagaimana mungkin kita akan memberikan rasa sayang, rasa cinta kita pada seseorang yang tidak kita kenal. Bukankah “Tak kenal maka Tak Cinta ?”

Dan disinilah letak ketertakjubanku pada peristiwa yang aku alami yang justru membuatku berpikir, tidak selamanya mungkin sebuah pertemuan dengan seseorang yang kita belum kita kenal akan melahirkan keinginan untuk ta’aruf, dan rasa sayang bisa saja terjadi tanpa didahului sebuah perkenalan yang memuat sebuah isian biodata yang harus diisi dalam blangko pencernaan pikiran biasa (tanya nama, alamat dan sebagainya).

Peristiwa yang pertama adalah sebuah peristiwa di sebuah bis kota yang melaju lamban di jalan raya yang macet di pinggir kota Jakarta yang memang sudah sangat padat setiap jalur badan jalannya dengan kendaraan yang berseliweran setiap harinya.

Hari cukup panas ketika itu dan bau keringat penumpang mulai menyebar menimbulkan sebuah perasaan tidak nyaman. Di sebelahku duduk seorang gadis berjilbab yang bertubuh agak besar. Dia sedang asyik membaca sebuah buku. Kulirik buku di tangannya dan mengenalinya sebagai salah satu buku yang sering aku lihat di pajang di toko buku.

Secara iseng (sungguh ini pertanyaan iseng karena aku mulai jenuh dengan masa menunggu kemacetan lalu lintas) aku mulai bertanya tentang apa judul buku yang dia baca. Gadis itu memperlihatkan judulnya padaku. Lalu aku mulai melontarkan pertanyaan apa isi buku tersebut dengan gaya sok akrab dan gadis itu melayani pertanyaanku dengan sabar dan penuh senyum.

Hmm, tampaknya dia mulai mengerti akan ketidak nyamanan yang aku alami dalam bis kota yang padat itu dan keterasingan untuk segera terbebas dari tempat dudukku yang keras sehingga dengan penuh keikhlasan gadis itu memberikan waktunya untuk menjawab pertanyaanku. Tanpa kami sadari kami terlibat sebuah diskusi menarik dan asyik.

Aku memang senang membaca dan lebih senang lagi jika diajak seseorang untuk bertukar pikiran tentang sebuah topik dari sebuah materi yang pernah aku baca atau aku ketahui. Hingga tak terasa tujuan akhir telah tiba. Gadis itu harus turun lebih dahulu dariku dan apa yang dia lakukan kemudian membuatku cukup ternganga dan sangat berkesan pada pertemuan dengannya.

“Aku ingin memberikan buku ini padamu.”

Subhanallah. Aku tahu dalam pembicaraan kami tadi bahwa buku itu belum dua jam yang lalu dibelinya di toko buku. Bahkan sampai halaman pertengahan pun gadis itu belum usai membacanya. Bagaimana mungkin dia akan memberikannya begitu saja padaku padahal tadi baru saja dia katakan bahwa dia menginginkan buku itu sejak lama sehingga dia menabung sedikit demi sedikit uang sakunya untuk dapat membeli buku itu.

“Tidak. Aku tidak menginginkannya. Buku itu milikmu, kamu belum selesai membacanya, bacalah dulu sampai selesai.” Aku menolaknya dengan keras.

“Tapi aku ingin memberikan buku ini padamu.” Gadis itu tetap bersikeras.

“Tidak.“

“Terimalah. Anggap ini hadiahku untukmu, kamu memang pantas menerimanya. Ayo, terimalah buku ini sebagai kenang-kenangan dariku karena aku tidak tahu kapan lagi kita akan bertemu di waktu yang akan datang.”

Duhai. Kalimatnya menimbulkan rasa haru yang mendalam, aku termangu sejenak tapi segera tersadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk jadi melankolis. “Tidak. Aku tidak bisa menerimanya.”

“Terimalah hadiahku ini. Kamu belum membacanya kan, bacalah, aku sudah membacanya sebagian dan isinya sangat menarik, sedangkan kamu belum membacanya sama sekali, aku ingin kamu membacanya juga dan bacalah sampai akhir.”

“Kenapa?“ Aku bertanya dengan bodoh. Sungguh aku tidak tahu kenapa gadis itu bersikeras memberikan buku barunya padaku.

“Kenapa kamu ingin memberikan buku barumu padaku, padahal kamu menginginkan buku ini sejak lama. Kenapa?”

“Karena aku sayang padamu. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan saat ini yang aku miliki adalah buku baruku ini. Percayalah padaku bahwa aku menyayangi kamu karena Allah semata sehingga jika saat ini kamu menginginkan yang lain dariku, seperti mataku, rambutku, tanganku, semua akan kuberikan padamu detik ini juga karena aku sayang padamu karena Allah semata.”

Aku makin ternganga. Belum ada satu jam kami berbincang dan diskusi tapi rasa sayang yang dia miliki padaku sudah demikian mendalamnya sementara namanya saja aku sama sekali tidak tahu karena dia memang hanya kujadikan seorang teman untuk membunuh waktu jenuhku di dalam kendaraan tersebut.

Ada sebuah rasa haru yang kian membuncah dalam dadaku mendengar untaian kalimat terakhirnya sekaligus melahirkan sebuah dorongan untuk menerbitkan mutiara bening dari sudut kelopak mataku. Aku tidak sanggup berkata apa-apa karena terbalut haru dan buku itu sudah berpindah tangan, diletakkan gadis itu di dalam genggamanku sementara dia bersiap untuk turun dari kendaraan. Pada perhentian selanjutnya gadis itu mulai berdiri menepi.

“Mbak..makasih yah. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya bahkan kita belum sempat berkenalan. Mbak juga tidak tahu siapa aku.” Gadis itu hanya tersenyum ramah mendengar kalimatku yang mungkin terdengar sangat bodoh.

“Itu tidak penting. Yang aku tahu kamu adalah saudariku dalam islam. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan dengan masing-masing dalam kondisi yang lebih baik.”

Kemudian bis berhenti dan setelah mengucapkan salam, gadis berjilbab itu melesat turun sambil melambaikan tangannya padaku. Aku membalas salamnya sambil tersenyum dan setelah dia menghilang dari pandanganku aku mulai membaca judul bukunya.

“Menjadi Muslimah yang kaffah.”

Hmm, mungkin dia memberikan buku itu karena aku belum berjilbab. Yup. Kejadiannya memang sudah lama sekali, sewaktu aku masih kuliah dulu dan masih banyak mempertimbangkan banyak hal sehingga belum timbul keinginan kuat untuk menutupi auratku secara lengkap dengan sebuah hijab yang semestinya.

Aku sangat terkesan dengan peristiwa itu karena di kampus, teman-teman akhwat lain lebih banyak yang memilih untuk tidak menaruh kepercayaan dan kasih sayang sebesar seperti yang diberikan oleh gadis tadi. Di kampus mereka memberlakukan sebuah jarak dalam membina hubungan denganku yang notabene sebenarnya memiliki agama yang sama dengan mereka hanya saja aku belum berjilbab. Image muslimah sebagai sebuah kelompok eksklusif dalam kepalaku telah hancur lebur dalam hitungan detik dengan kehadiran gadis berjilbab itu.

Sekarang aku alhamdulillah sudah mengenakan jilbab, sudah berkeluarga dan sudah dikaruniai dua orang jundi yang manis. Kesibukan sehari-hari dalam urusan pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga hampir tidak menyisakan waktu luang bagiku. Lebih dari itu, kadang timbul sebuah proses pemilihan teman dalam bergaul yang terus terjadi tanpa aku sadari.

Jika ibu-ibu lain di sekitar rumahku sering berkumpul di depan pagar rumahnya maka bisa dikatakan aku jarang sekali ikut berkumpul dengan mereka. Jika ada acara pertemuan antar ibu-ibu di lingkungan rumahku, entah itu arisan rt, pengajian bulanan, pertemuan bulanan antar warga, atau bahkan acara resmi seperti selamatan atau kenduri, bisa dipastikan aku hanya hadir pada saat acara resmi itu berlangsung saja. Setelah acara resmi selesai, ketika piring gelas mulai dikumpulkan di tengah tikar, aku memilih untuk segera mengundurkan diri ketimbang ikut bergerombol bersama ibu-ibu yang lain membuat pembicaraan dan acara baru di luar acara inti.

Hmm, aku tetap berusaha untuk bergaul akrab, ikut tersenyum dan bersenda gurau atau berdiskusi dengan teman-teman ibu-ibu rumah tangga yang lain dalam konteks acara yang aku ikuti masih berlangsung. Setelah itu, setelah acara itu selesai, aku lebih memilih untuk mengundurkan diri lebih karena alasan menghindari kemudharatan.

Sudah bukan menjadi rahasia lagi apa yang dilakukan oleh para ibu-ibu rumah tangga jika mereka berkumpul dan mulai saling bercengkerama di luar sebuah acara yang terkoordinir. Mereka akan membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan inilah yang aku hindari. Terlibat dalam pergaulan seperti itu bagiku seperti memakan sebuah buah simalakama. Dimakan dalam arti kita melibatkan diri; kita akan terpengaruh dengan atmosfere mereka karena mau tidak mau kita akan mengeluarkan suara dan terlibat dalam pembicaraan mereka yang kelak kita akan menyesalinya sendiri. Pilihan kedua adalah tidak memakannya, yaitu kita tetap diam jadi pendengar dan itu artinya kita membiarkan isi pembicaraan mereka itu akan masuk ke telinga kita tanpa sebuah perlawanan, mengendap di dalam hati dan secara tidak sadar akan menimbulkan sebuah diskusi dengan diri sendiri yang lebih banyak melahirkan sebuah su'udzon dan ketidak nyamanan.

Ada sebuah pembenaran yang aku pegang dalam keputusanku untuk melakukan apa yang menurutku saat ini baik bagiku, yaitu mencegah sebuah kemudharatan itu lebih utama ketimbang menyebarkan manfaat. Hmm, benarkah pembenaran ini? WallahuÂ’alam.

Nah, dalam kesibukan memilih teman dalam pergaulan sehari-hari itulah terjadi peristiwa kedua yang juga sangat menyentuh hati dan memberi kesan yang sangat mendalam bagiku. Kejadiannya terselip dalam peristiwa rutinitas sehari-hari dan dalam waktu yang tidak terduga. Yaitu waktu shubuh.

Ada sebuah kebahagiaan tersendiri yang aku rasakan menjelang waktu shubuh. Yaitu kesempatan untuk berjalan menikmati suasana damai menjelang shubuh berdua saja dengan suamiku. Masjid tujuan kami letaknya lumayan jauh dari rumah dan waktu yang terhampar di selang perjalanan menuju masjid itu biasanya diisi dengan percakapan ringan yang lepas dari rasa kesal, jenuh dan bosan akan rutinitas pekerjaan dan kegiatan.

Yang ada hanyalah senda gurau atau curhat yang diiringi nasehat ringan diseling canda. Biasanya, setelah melakukan shalat shubuh berjamaah di masjid kami segera bergegas menuju rumah karena tugas rutinitas sehari-hari telah menunggu. Itu sebabnya waktu berangkat menuju masjid itu menjadi lebih istimewa (menjadi makin istimewa karena kadang kesehatanku yang sering terganggu dan kemalasan akibat kelelahan akan tugas sehari-hari membuat acara manis ini menjadi kian sulit dilakukan).

Hari itu, seperti biasa aku segera melipat perlengkapan shalatku dan mulai bersiap-siap untuk pulang ketika ada seseorang yang menyapaku. Seorang wanita tua yang tampak tersenyum dan memberiku salam. Aku membalas salamnya sambil ikut tersenyum.

“Apa kabar nak? kenapa sudah lama sekali tidak kelihatan?” sambil beringsut, aku mendekati ibu tua itu dan duduk di hadapannya sambil menyalaminya dengan sopan.

“Sakit bu. Saya sudah beberapa hari ini sakit jadi tidak bisa pergi kemana-mana termasuk ke masjid ini. Tapi alhamdulillah sekarang sudah sehat kembali. Ibu sendiri gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah sehat nak.” Ibu itu masih memandangiku sambil tersenyum lembut sekali. Tiba-tiba dia meraih kedua pergelangan tanganku dan memegangnya dengan sangat erat.

“Ibu rindu sekali melihat kedatanganmu.. sudah hampir setengah bulan tidak melihat kamu hadir di sini.” Aku hanya tersenyum tapi dalam hati tak urung heran. Setengah bulan, artinya ibu itu menghitungnya. Artinya lagi, ibu ini tentu jamaah tetap di kala waktu shubuh di masjid ini…wah… bagaimana aku bisa tidak tahu akan kehadiran ibu ini setiap kali aku shalat disini. Hmm, mungkin karena aku selalu tergesa untuk pulang karena memikirkan pekerjaan rumah tangga yang terasa sudah antri untuk dikerjakan. Duh, betapa tidak pedulinya aku pada lingkunganku selama ini. Kalimat ibu itu mulai terasa seperti sindiran bagiku.

“Ibu selalu berdoa agar kamu sehat nak… sungguh, ibu mencintai kamu karena Allah dan selalu berharap bisa bertemu kamu di sini, di masjid ini meski ibu sendiri juga tidak yakin karena ibu sudah sangat tua dan makin rapuh.”

Subhanallah….
Kali ini aku sungguh-sungguh merasa terharu. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan apa yang terjadi pada lingkungan sekitarku. Aku sibuk dengan urusan keseharianku sendiri, aku sibuk dengan diriku sendiri sedangkan ibu tua di hadapanku, yang mungkin hidupnya lebih susah, lebih kompleks permasalahannya, lebih rumit hal tentang kesehariannya, tetap memiliki kemampuan untuk memperhatikan lingkungannya.

Hmm.. tahukah anda. Kedua peristiwa berkesan di atas itu sebenarnya sebuah nasehat yang sangat manis dari Allah untukku. Subhanallah. Kadang, sebuah nasehat itu tidak melulu hanya berupa sebuah tausiyah panjang lebar tentang hamparan hadits dan ayat.

Sebuah nasehat bisa juga berupa perbuatan. Sama seperti perbuatan gadis berjilbab di bis kota di atas. Dengan memperlihatkan keramahan dan kesantunan serta keikhlasannya (sampai sekarang aku tidak pernah sekalipun lagi berjumpa dengannya, semoga Allah merahmatiNya selalu, amin), aku jadi tergugah akan keindahan ukhuwah dalam islam dan kemanisan budi pekerti muslimah sesungguhnya. Lebih dari itu, muncul semangat untuk benar-benar mewujudkan jati diri sebagai “Muslimah yang kaffah”, seperti nasehat yang diberikan dalam buku yang diberikannya secara cuma-cuma padaku.

Begitu juga dengan ibu tua di dalam masjid itu (hik..hik..aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya, dan aku sampai detik ini tidak tahu siapa namanya, dimana dia tinggal dan informasi apapun tentang dia. Semoga beliau tetap dalam lindungan Allah SWT). Dengan kelembutan seorang ibu yang bijak, dia mengingatkan aku agar merindukan “masjid” selalu sesibuk apapun kegiatanku... ibu itu juga mengingatkan aku bahwa penilaian akan lingkunganku selama ini sebenarnya tidak selamanya benar. Bukankah di tengah hamparan rumput hijau di tengah padangpun selalu terselip bunga berwarna cantik yang harum baunya meski keberadaan bunga tersebut kecil mungil nyaris tak terlihat?

Kehadiran mereka berdua adalah penyejuk dahaga di tengah perjalanan panjang dan membosankan karena keterasingan yang monoton.
Kehadiran mereka adalah pendorong semangat ketika ghirah mulai kendur karena rutinitas keseharian yang mulai menegangkan urat syaraf. Hmm.. wallahuÂ’alam.

Aku jadi teringat sebuah hadits yang mengatakan bahwa :
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Dari kitab shahih Muslim, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik).

Begitu besar rasa persaudaraan yang terkandung dalam hadits tersebut hingga tidak ada pemilahan kelompok di dalamnya yang berdasarkan pada beragam suku, ras, golongan, bangsa dan warna kulit. Semuanya adalah keluarga. “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (al Hujurat:10).

Mencintai disini adalah menginginkan segala kebaikan yang dia miliki untuk turut pula dirasakan oleh saudaranya.

“Demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan dirinya sendiri.” (Dari riwayat Nasa’i).

Kebaikan disini adalah kebaikan “menurut syariat” seperti ilmu yang bermanfaat, amal yang shaleh, dan akibat yang positif. Tidak ada tempat di sini untuk penilaian yang bersifat subjektif yang sering kita berlakukan jika kita memilih teman tanpa kita sadari. Sama seperti nasehat halus yang diberikan oleh gadis di bis kota itu padaku. Sementara teman-teman akhwat menolak kehadiranku yang “berbeda” dengan mereka yang berjilbab lebar, maka gadis itu dengan penuh keikhlasan mengajarkan aku arti ukhuwah sesungguhnya dan tanpa sadar memberiku semangat untuk “mengenal islam (agama perdamaian) lebih jauh”. Subhanallah.

Semoga kita semua bisa belajar untuk bisa pula menjadi suri tauladan seperti kedua tokoh “nyata” yang aku temui di dalam hidupku itu. Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah memberiku pelajaran yang sangat berharga.

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.
Engkau yang menciptakan ku dan aku adalah hambaMu.
Aku terikat dalam perjanjian dengan-Mu sekemampuanku.
Aku berlindung kepada-MU dari segala kejahatan yang telah aku lakukan.
Aku mengakui nikmat-nikmat-MU kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa, kecuali engkau” (HR. Bukhari)

Ade Anita

kafemuslimah.com

Wanita dan Islam adalah dua keindahan tak terpisahkan

08:29



Dalam suatu kesempatan, ada yang menyampaikan kritik kepada Habiburrahman El-Shirazi terkait figur Fahri yang beliau munculkan dalam Ayat-Ayat Cinta. Disampaikan kepada beliau bahwa sosok Fahri yang ditampilkan dalam novel tersebut terlalu sempurna. Maksudnya adalah, figur Fahri yang sangat sholeh terlalu ideal untuk ukuran zaman sekarang. Apakah benar ada seorang muslim yang masih muda namun memiliki karakter dan kapasitas seperti Fahri??

Kang Abik (begitu beliau biasa dipanggil) pun menjelaskan bahwa pemuda-pemuda seperti Fahri banyak terdapat di Mesir. Walaupun di Indonesia agak susah ditemukan. Artinya pemuda muslim seperti Fahri itu memang benar-benar ada. Tidak hanya dalam cerita fiksi saja. Ustadz Salim A Fillah dalam salah satu bukunya, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, bahkan menyampaikan bahwa beliau memiliki teman yang kesholehannya seperti Fahri. Istri dari pemuda Indonesia yang ‘mirip’ Fahri ini adalah teman dari istri ustadz Salim waktu kuliah di Solo.

Pertanyaan yang serupa juga berlaku untuk Assalamu’alaikum Beijing. Seseorang yang sudah menonton film atau membaca novelnya bisa jadi tertarik untuk mengutarakan pertanyaan sederhana, ”Apakah benar ada perempuan seperti Asmara?”. ”Di zaman sekarang, apakah masih ada muslimah muda yang menjalin persahabatan dengan lawan jenis tapi disaat yang sama dia masih mampu menjaga harga dirinya?”. ”Sungguhkah ada, wanita yang dengan cintanya mampu merubah cara berpikir bahkan iman seseorang??”.

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini bisa jadi hanya Asma Nadia (penulis novel) yang tahu.Namun saya yakin, ada tujuan yang lebih penting yang ingin dicapai Asma Nadia selain bukunya terjual dan filmnya banyak yang menonton. Latar belakang beliau sebagai aktifis dakwah menguatkan asumsi ini. Selain Assalamu’alaikum Beijing, puluhan buku dan novel dengan nafas Islam sudah beliau persembahkan. Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin menjadi salah satu renungan yang beliau harapkan dari kita semua. Bahwa wanita dan Islam adalah dua keindahan yang tidak hanya saling melengkapi, tapi juga tidak bisa dipisahkan.

Untuk itu, Apa yang kita saksikan dalam diri Asmara berupa sikap optimis, ceria, menyenangkan, suka membaca, pantang menyerah dan senang mengingat Allah, sebenarnya hanyalah implementasi dari ajaran Islam yang diyakininya. Begitu juga ketika Asmara ingin menjadi wanita yang menutup aurot dengan benar dan bersungguh-sungguh untuk tidak melawati batas ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Karakter Asmara yang mempesona akan semakin jelas kalau kita juga membaca novelnya. Dari situ kita akan mendapat pelajaran besar tentang seni menikmati Islam. Bukan ‘sekedar’ menjadi pemeluknya.

Bisa jadi banyak muslimah muda yang lebih ideal dan lebih sempurna daripada Asmara. Tapi kehadirannya berhasil membawa memori kita pada masa lalu. Ketika keindahan Islam menyatu dengan keindahan Aisyah, Fatimah azzahro’, Asma’ binti Abu Bakar dan wanita-wanita menyejarah lainnya.

Asmara memang hanya fiksi, tapi kisahnya mengingatkan kita akan suatu kenyataan, bahwa dari rahim Islam, akan terus lahir wanita-wanita hebat yang bahkan lebih tangguh darinya. Kehadiran Asmara sebagai wanita muda nan sholehah akhirnya memang layak mendapat perhatian besar. Terlebih disaat sekarang, ketika kondisi kaum wanita semakin mengingatkan kita akan sabda Rosul: “Neraka Diperlihatkan kepadaku, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hr.Bukhori Muslim)

Wallohu a’lam

by @salavius88
Pengajar di Pesantren Tahfizh GRQ (Generasi Rabbani Qurani) Bandung

*sumber: http://salavius88.tumblr.com/post/108734459048/asmara-wanita

Peran Suami dalam Mewujudkan Istri yang Menyenangkan

12:41
 Oleh : Cahyadi Takariawan

Hendaknya para suami membantu istri agar bisa menyenangkan dirinya. Jangan diam dan pasif menunggu inisiatif istri yang berusaha sendirian menjadi salihah dan menjadi menyenangkan. Akan sangat berat dan sulit bagi istri untuk menjadi salihah dan menyenangkan suami apabila tidak ada back up dari suami. Maka suami harus aktif dan proaktif membantu istri untuk mewujudkan karakter salihah dalam diri istri.
Ada banyak peran yang bisa dilakukan suami agar istrinya bisa tampil menyenangkan, di antaranya adalah (1) peran menyediakan sarana dan fasilitas yang diperlukan istri, dan (2) peran memberikan dukungan moril untuk istri. Pada postingan kali ini, saya akan menyampaikan peran yang pertama, yaitu peran suami dalam menyediakan sarana serta fasilitas yang diperlukan istri.
Paling tidak, ada empat peran suami dalam menyediakan sarana serta fasilitas yang diperlukan istri.
  1. Menyediakan pakaian yang disenanginya
Jika suami senang melihat istri dengan pakaian jenis dan model tertentu, maka ia harus menyediakan bagi istri. Menyediakan itu bisa dalam bentuk memberikan dana agar istri membeli pakaian yang disenangi suami, atau langsung membelikan pakaian seperti apa yang disenagi suami. Jangan menyuruh istri menebak-nebak sendiri pakaian seperti apa yag disenangi suami. Lebih baik suami langsung melakukan tindakan nyata untuk menyediakan pakaian yang disenanginya.
Bagi istri, ia tidak bisa sepenuhnya menjadi dirinya sendiri setelah menikah. Ia tidak hanya berpikir “pakaian yang aku senangi”, namun harus menyediakan ruang untuk mengenakan pakaian yang disenangi oleh suami. Maka suami harus membantu istri mewujudkan sosok istri yang “menyenangkan jika dipandang”, dengan jalan menyediakan pakaian yang menyenangkan bagi suami. Demikian pula ketika istri menghendaki jenis pakaian tertentu yang disenangi istri, dan suami pun merasa senang dengan pakaian itu, semestinyalah suami mudah untuk menyediakannya.
Kadang dijumpai suami mengkritik penampilan istri yang dianggap tidak modis atau pakaian yang dianggap tidak punya selera, namun suami tidak memberikan bantuan untuk mewujudkannya. Semestinyalah suami membantu istri untuk menghadirkan berbagai keindahan dalam berpakaian yang membuat suami merasa senang memandang istri. Bukan hanya mengkritik atau menuntut istri tanpa ada peran dan keterlibatan suami dalam mewujudkan harapan.
  1. Menyediakan sarana untuk mewujudkan istri harum, wangi dan segar
Jika suami senang mamandang istri yang selalu segar, harum dan wangi, maka suami harus menyediakan berbagai sarana untuk keperluan itu. Misalnya pilihan sabun, shampo, pasta gigi, parfum atau wewangian lain yang disenangi suami. Jangan hanya menuntut istri harus segar, wangi dan harum namun suami tidak menyediakan sarana yang diperlukan untuk mewujudkan itu.
Ada ribuan jenis wewangian dengan segala kualitas dan kekhasannya, tinggal suami menghendaki istri memiliki aroma tubuh seperti apa. Semua bisa diwujudkan sesuai selera dan ketersediaan dana, termasuk ketika menghendaki setiap hari istrinya memiliki aroma yang berbeda-beda. Semua ada sarananya. Misalnya hari ini tubuh istri beraroma strawberi, besok beraroma jeruk nipis, besok lagi beraroma durian, dan lain sebagainya.
Sangat penting bagi suami untuk memberikan bantuan yang memadai bagi istri untuk selalu tampil segar mewangi sebagaimana harapan suami. Jangan dibiarkan istri menebak-nebak sendiri keinginan suami, tapi berikan kontribusi yang memadai untuk mewujudkan karakter “menyenangkan jika dipandang”.
  1. Menyediakan asesoris dan perhiasan yang disenanginya
Apabila suami menghendaki istri mengenakan dandanan, perhiasan atau asesoris tertentu yang disenangi, maka hendaknya ia memberikan bantuan untuk mewujudkan hal itu. Kadang suami menyaksikan foto atau gambar di majalah, di koran, di iklan, di internet atau dalam kehidupan nyata, asesoris tertentu atau perhiasan tertentu yang menarik baginya. Ia membayangkan istrinya akan sangat menarik jika memakai asesoris atau dandanan seperti yang ia lihat, maka semestinya ia langsung membelikannya atau menyediakannya.
Misalnya kalung, atau gelang atau anting, atau asesoris lainnya yang menarik bagi suami. Atau istri yang menghendaki asesoris dan perhiasan tertentu untuk dikenakan, dan suami menyetujuinya. Pada prinsipnya, suami harus terlibat dengan bantuan nyata jika ingin menyaksikan istri yang cantik menarik dengan perhiasan dan asesoris. Tidak bisa hanya dengan menuntut dan menunggu istri mengerti apa keinginan suami, tapi harus dibantuk untuk mewujudkannya.
Namun ada suami yang tidak menyukai asesoris atau perhiasan bagi istri, baik karena kondisi ekonomi yang  tidak memungkinkan untuk membelikan perhiasan tersebut, ataupun karena memang dasarnya tidak suka perhiasan. Justru lebih senang melihat istri tampil polos tanpa perhiasan dan asesoris tertentu. Hal ini sifatnya sangat situasional dan kondisional. Harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi suami istri tersebut.
  1. Menyediakan fasilitas untuk perawatan tubuh agar tetap indah
Banyak suami yang menuntut istrinya memiliki tubung langsing dan ideal, namun tidak menyediakan back up yang diperlukan. Untuk itu semestinya para suami harus menyediakan anggaan untuk mewujudkan hal itu. Sekarang sudah sangat banyak salon kecantikan atau tempat-tempat perawatan tubuh dengan aneka tawaran perawatannya dan aneka harganya. Bagian apa yang ingin disesuaikan, ada tarifnya sendiri-sendiri. Bahkan sangat bagus kalau para suami menyediakan waktu untuk mengantarkan istri ke pusat perawatan kecantikan tubuh.

Selain urusan salon kecantikan, bentuk tubuh juga bisa dirawat dengan olah raga rutin dan pola makan sehat. Suami perlu menyediakan sarana untuk keperluan olah raga istri, juga sarana untuk pola makan yang sehat bagi istri. Tentu saja olah raga bisa dilakukan dengan gratis, seperti lari pagi, senam atau badminton di halaman rumah. Namun jika memiliki kemampuan keuangan, bisa disediakan berbagai sarana olah raga di rumah agar istri bisa melakukan kapanpun setiap ada kesempatan.

Apabila suami tidak menyediakan anggaran dan fasilitas bagi istri untuk melakukan perawatan tubuh, maka terimalah istri apa adanya. Jangan mengejek atau menghina bentuk tubuh istri yang tidak ideal. Nikmati saja semua kondisi tubuh istri, karena seperti apapun bentuk tubuhnya saat ini, toh tetap bisa dinikmati.

Demikianlah peran suami dalam menyediakan sarana dan fasilitas yang memadai agar istri bisa mewujudkan karakter “menyenangkan bila dipandang”. Jangan hanya mengkritik dan mencela, lakukan tindakan nyata. Istri akan menjadi menyenangkan bagi anda.

sumber Kompasiana
Jangan Nodai Islam dengan “Jilbab”mu

Jangan Nodai Islam dengan “Jilbab”mu

10:55
Jilbab bukan hanya selembar dua lembar kain yang menutupi aurat tubuh seorang wanita, tapi ia adalah identitas, pakaian takwa muslimah. Ketundukkan akan seluruh perintah dan larangan Allah, bukan hanya pelaksanaan untuk menutup aurat saja, itulah simbol kecantikan dan keindahan seorang wanita dalam Islam.

jilbaberssFenomena jilbab beberapa tahun belakangan ini menjadi booming digandrungi karena dikemas modis dan fasionabel. Semua dipermak secara menarik mulai dari bahan kainnya, bentuk model kerudung/ bajunya, motif, warna sampai asesorisnya, juga sepatunya, tas nya, gaya tata rias make upnya ditambah banyaknya video tutorial tentang berjilbab dan berhijab itu sangat memudahkan para muslimah untuk mendapatkan akses tentang jilbab. Bisa dikatakan kampanye jilbab begitu sukses saat ini, namun ada hal penting yang terlupakan mengenai makna jilbab, perintah jilbab dari Allah itu sebenarnya seperti apa. Oleh karena kesadaran akan jilbab yang semakin meningkat, sangat rugi sekali kalau dipakai/ ditiru tanpa mampu menarik simpati Allah, bahkan ada yang mengundang murka Allah, Nauzhubillah.

Tak ketinggalan saat ini film/sinetron tentang jilbab/hijab mulai marak seperti film jilbaber in love (desember 2014), sinetron Aisyah puteri (Jilbab in love) dan film Hijab yang akan tayang Januari 2015. Semua isi ceritanya tidak jauh dari ide-ide sinetron/ film Indonesia, berkisar tentang persahabatan, pacaran (pergaulan bebas) atau keluarga, dimana ceritanya tidak menampakkan ide keislamannya secara benar sesuai ketentuan syara’. Padahal tontonan dari film saat ini sadar tak sadar menjadi sebuah tuntunan. Cara berpakaian, bergaulnya, sopan santun nya itu mudah sekali ditiru oleh anak-anak kita. Dalam film/ sinetron tersebut diceritakan bahwa seorang perempuan yang berjilbab pun tetap bisa berpakaian ketat, pulang malam, bermake up menor plus bulu mata anti badainya (tabarujj), berparfum, tomboy menyerupai laki-laki, tetap pacaran, tetap pegang-pegangan tangan, bergaul tanpa batas syar’i dengan laki-laki non muhrim. Padahal jelas sekali bahwa itu semua di haramkan oleh Allah. Perilaku seperti itu sama sekali tak mencerminkan seorang muslim walau ia berbicara dengan membacakan ayat-ayat Al-qur’an seperti di film-film itu.

Sepatutnya lah sebagai seorang muslimah yang cerdas dan menginginkan surga Allah mencari tahu apa-apa yang disukai/ tak disukai Allah, seperti halnya jilbab. Tentu saja Allah sangat suka ketika kita memilih pakaian takwa itu, namun ketika kita menodainya dengan berbuat dosa-dosa lainnya (tetap pacaran, ketat tidak syar’i) karena kelalaian kita tidak mengkaji ilmu agama, maka sangat rugi sekali waktu yang kita lewati ternyata hanya menumpuk dosa-dosa, sehari demi sehari setahun demi setahun, Astagfirullah. Harus ditanamkan betul-betul bahwa jilbab adalah simbol bahwa muslimah yang memakainya itu (seharusnya) berbeda daripada yang tidak memakai. Sangat aneh bila berjilbab tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berjilbab tapi mojok berduaan dan beraktivitas mesum, nauzhubillah.

Kewajiban berjilbab itu sama dengan perintah kita wajib menunaikan sholat, zakat, shaum, menutup aurat bagi laki-laki, menjauhi riba, memakan makanan halal, memuliakan orang tua. Kedudukannya setara, siap tidak siap, niat tidak niat, suka tidak suka kalau ditinggalkan atau disalah gunakan (tidak syar’i) akan menjadi dosa besar.  Penjelasan mengenai Jilbab ataupun hijab bisa kita lihat dalam ayat-ayat al-qur’an dalam surah Al-Ahzab ayat 58 dan 59, yang menyatakan bahwa jilbab adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah, adapun hijab artinya penutup secara umum. Sedangkan khimar  adalah yang menutupi kepala, leher dan menjulur hingga menutupi dada wanita dari belakang maupun dari depan (termasuk menutupi tulang selangka) sesuai surah An-Nur ayat 31. 

Dalam kesepakatan para ulama maka kriteria jilbab yang syar’i ialah khimar menutupi dada tidak boleh seperti “punuk onta”, tidak ketat, tidak tipis tidak menyerupai suatu kaum, tidak tabarujj dan bermegah-megah, niat karena Allah. Jelas sudah jilbab merupakan bagian dari pelaksanaan hukum syara’ dan aktivitas seperti pacaran, tabarujj dll adalah pelanggaran terhadap hukum syara’, maka tak boleh dicampu adukan antara yang haq dan bathil. Karena kesucian jilbabmu akan ternodai oleh karena dosa-dosa kecil itu. *eramuslim.com

oleh : Maria Ulfah
Ibu Sensitif Lahirkan Anak yang Lebih Berprestasi

Ibu Sensitif Lahirkan Anak yang Lebih Berprestasi

08:17
Anak melukis 
Faktor sensitivitas, kepekaan, dan perhatian orang tua terhadap anak setidaknya dapat memengaruhi kemampuan bersosialisasi ataupun akademik anak, seperti dikutip dari Inhabitots, Senin (12/1).

Hasil temuan tersebut disebutkan para peneliti yang telah melihat korelasi jangka panjang antara sensitivitas seorang ibu dengan perilaku maupun hasil belajar atau nilai akademik anak di sekolah.

Pada saat anak mencapai usia dewasa, para peneliti mewawancarai mengenai pribadi, hubungan romantis, dan hasil pendidikan mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak-anak yang memiliki ibu dengan sensitivitas dan perhatian tinggi pada saat mereka masih kecil, umumnya  memiliki pestasi akademik lebih bagus.

Ternyata anak-anak yang lebih berprestasi itu memiliki seorang ibu yang selalu menanggapi mereka sejak usia dini. Berbeda dengan rata-rata anak dengan pola asuh yang kurang harmonis bersama orang tuanya.

Namun peneliti juga mengakui sementara ini masih akan mencari faktor lain untuk dipelajari terkait pengaruh dan mempengaruhi hal tersebut. Seperti meneliti kehadiran dan pengaruh sensitivitas ibu pada titik-titik lain selama masa kanak-kanak dan peran genetika, atau bahkan temperamen seorang anak.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memberikan perhatian intensif dan berperan sebagai ibu atau orang tua yang selalu mendukung, dapat menuai keuntungan jangka panjang yang positif bagi masa depan anak

*republika.co.id

Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah, Seperti Apakah?

09:13
Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah, Seperti Apakah?
Oleh : Cahyadi Takariawan

Sakinah adalah suasana yang tenang, tenteram, nyaman dan damai. 
Keluarga sakinah bukan berarti tidak ada konflik. Namun setiap kali muncul konflik, dengan mudah dan cepat bisa diredam.

Keluarga sakinah bukan berarti tidak ada prahara masalah. Namun setiap datang masalah mampu dihadapi dengan tenang dan damai.
Keluarga sakinah bukan berarti tidak punya beban persoalan. Namun semua beban persoalan selalu mampu dihadapi dan diselesaikan dengan bijak.

Mawaddah adalah cinta yang menggebu-gebu. Biasanya muncul pada pengantin baru. Ditandai dengan sangat banyak aktivitas fisik.

Rahmah adalah cinta yang mendalam dan dewasa. Biasanya ada pada "pengantin lama" atau pasangan yang sudah tua usia. Aktivitas fisik sudah berkurang, namun muncul ikatan jiwa yang sangat kuat.
Ibnu Abbas menggambarkan rahmah sebagai "cinta kasih suami sehingga ia tidak tega dan tidak rela melihat istrinya berada dalam kesulitan".

Sahabat saya KH Syaifuddin pimpinan Ponpes Nurul Wahid Purworejo menjelaskan maksud ungkapan Ibnu Abbas tersebut, "Suami tidak rela membiarkan istrinya kelelahan. Baik lelah lahir maupun lelah batin".
Itulah rahmah.

Moga kita miliki semuanya.
Wallahualam....

Al Ummu Madrosatul Ula (Ibu sebagai Sekolah Pertama Anak)

12:18
Wahai Ibunda, saat pertama kali kita mengandung pasti ada berjuta rasa yang terpatri dalam relung jiwa. Ada perasaan haru, bangga, bahagia, cemas, khawatir ataupun meragukan kemampuan diri. Ya...perasaan yang hadir itu sekiranya memang wajar bunda. Apalagi ketika si kecil sudah lahir ke dunia ini. Perasaan tersebut kembali hadir, bahkan levelnya sedikit lebih naik. Jika masih ada perasaan cemas dalam diri kita terhadap masa depannya, itu sangatlah wajar bunda. Menerima amanah titipan Allah berupa sosok mungil yang awalnya masih rapuh dan suci, kemudian menjadi tanggung jawab kita untuk mendidiknya hingga besar, memberikan makanan bagi jiwa raganya, menyusuinya, menyayanginya, mengayakan pikiran dan jiwanya dengan iman dan akidah yang akarnya kokoh hingga ke sanubari, itu tidaklah mudah. Ada beribu nilai yang harus kita punya sebagai bekalnya. Dan seiring dengan perkembangannya, justru kitalah yang makin bertambah ilmunya, makin hari kita makin belajar dari sosok mungil itu. Allah Maha Besar, Maha Adil... Satu hal yang harus selalu hadir dalam hati kita adalah kesabaran. Ya...kesabaran, yang dibaluri dengan keikhlasan yang paripurna. Allah memberikan reward yang paling tinggi dan indah untuk siapa saja bagi hambaNya yang mampu memiliki kesabaran ekstra.

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar 39:10)

 “Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”. (QS. Al Furqaan 25:75)

Oleh karenanya, sangatlah wajar bunda...jika syetan sering bermain dengan kesabaran kita saat mendidik buah hati. Ia begitu bersemangat menghasut dan membisiki kita saat si kecil mulai rewel, aktif ataupun menggemaskan. Namun selalu ingat bunda.... bahwa anak itu tak pernah salah. Ya... tak pernah salah, karena Allah saja belum memberlakukan dosa atas dirinya. Syetanlah yang selalu membisiki kita bahwa si kecillah yang bersalah. Namun jika si kecil terlihat melakukan suatu hal yang tidak wajar, justru kitalah yang perlu interospeksi diri...atas apa yang ia contoh dari kita atau tayangan media yang kerap kita suguhkan. Ya, karena kitalah yang bersamanya 24 jam.

Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah, namun tidaklah pula kita berlepas tangan dari amanah istimewa ini. Ibu... adalah sebagai sekolah pertama bagi buah hati. Ummu madrosatul'ula. Ibu adalah guru yang utama bagi anak-anaknya, karena ibu lah yang pertama ia rasakan kehadirannya saat dalam janin, yang pertama ia rasakan pula detak jantungnya, dari ibulah pertama kali si kecil mendapat makanan, dan itu saat di dalam rahim sang Ibu. Bisa dibayangkan bagaimana fitrah ini bisa terjadi, bagaimana ikatan ini bisa terjalin...antara Ibu dan anak. Bahkan mulai saat sang bunda mengandung, tanpa sadar ikatan itu perlahan terjalin dan terajut. Dengan mendidik buah hati dari tangan kita lah, ikatan itu akan semakin terjalin erat. Mungkin di antara kita, masih ada yang belum percaya diri dengan predikat ummu madrosatul 'ula ( ibu sebagai sekolah pertama). Namun janganlah khawatir bunda...sebenarnya dari tangan kitalah (sang Ibu) anak-anak lebih ridho diajarkan.

Jika melihat dunia pendidikan formal di sekolah-sekolah yang mainstream saat ini memang begitu mengkhawatirkan, entah yang berasal dari pergaulannya, tenaga pendidiknya atau dari sistemnya. Terlebih di negara kita tercinta ini. Mungkin karena rasa bingung dan kurang percaya diri itulah sang Ibu atau orang tua kerap 'menitipkan' anak-anaknya untuk dididik disebuah lembaga pendidikan formal yang diakui pemerintah. 

Meskipun masih banyak juga lembaga pendidikan yang baik dan bersesuaian dengan akidah serta sunnah Rasul yang kita yakini. Namun jika seorang Ibu bisa lebih sedikit mengubah cara pandangnya, kita juga bisa menyusun dan merancang pendidikan yang lebih profesional meskipun dibalik tembok rumah. Dengan tenaga pendidik yang tentunya juga sudah punya ikatan kuat dengan sang anak, yaitu kita sendiri, Ibu. Oleh karena itu, keliru jika ada seseorang yang beranggapan tak perlulah sekolah dan pendidikan yang tinggi jika hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. Justru otak dan pemikiran seorang Ibu haruslah di jejali dengan berbagai ilmu dengan pendidikan yang tinggi, psikis atau jiwanya didukung gizi ruhani yang mumpuni dan sempurna, fisiknya pun harus selalu tampil segar bugar menawan. Tepislah anggapan bahwa predikat seorang Ibu rumah tangga hanyalah seorang ibu dengan ilmu yang pas-pasan, kurang terdidik, kuper, dengan penampilan kucel ala daster rumahan. Bahkan di negeri sakura Jepang, banyak para wanita nya yang sengaja berpayah-payah lulus S2 (magister) demi untuk mendampingi sang buah hati, menjadi guru utama untuk mereka.

Mulailah timba ilmu bagaimana menjadi seorang Ibu yang profesional, layaknya sebuah jabatan di dalam perusahaan bergengsi. Jabatan Ibu adalah jauh lebih mulia dibandingkan profesi apapun, jauh lebih berat deskripsi kerjanya dibandingkan profesi manapun. Anda pasti sudah tahu, dalam sehari 24 jam, seminggu 7 hari, siang ataupun malam, baik dalam keadaan terjaga ataupun terlelap... seluruh komponen dalam keluarga kecil kita pasti membutuhkan peran kita. Meskipun latar pendidikan kita hanyalah SD atau SMP, cobalah untuk menggali ilmu pengasuhan atau parenting dari berbagai sumber atau rujukan. Bukalah diri kepada informasi dunia luar, mulailah dengan ikut kegiatan-kegiatan sosial di luar rumah, seperti mengikuti pengajian ataupun komunitas yang positif yang mendukung kita untuk selalu memperdalam ilmu parenting. Sebenarnya rujukan yang paling sempurna sudah kita temukan didalam kitab Al Qur'an. Rujukan bagi ilmu dari segala ilmu, karena langsung datang dari yang Maha Berilmu. Silahkan baca lembar demi lembar firmanNya, pasti akan kita temukan ilmu pengasuhan paling baik didunia ini. Bacalah surat Lukman, Ali Imran, Yusuf atau Maryam, ataupun surat-surat yang lain yang masih banyak tersirat ilmu-ilmu pendidikan.

Bayi, ataupun seorang anak yang baru saja hadir di dunia ini.... laksana seorang pengembara yang baru datang ke sebuah negeri yang belum pernah ia kunjungi. Bahkan untuk menjadi seorang manusia pun adalah hal yang baru baginya. Maka awal mula, ajarkanlah ia terhadap 3 hal pokok yang mendasar yang sangat dibutuhkan dirinya, yakni bagi jiwa (ruh/psikis), akalnya (pikiran) dan jasadinya (fisik). Adalah iman yang paling pokok di butuhkan jiwanya. Sesungguhnya Allah SWT telah melakukan perjanjian suci dengannya saat di alam ruh, tentang penghambaannya terhadap RabbNya. Mari kita simak perjanjian indah ini dalam Al Qur'an :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (QS. Al A’raaf, 7 : 172)

Maka dari tangan orangtuanya lah, ruh yang ada didalam bayi mungil itu kita didik, seolah-olah kita asah lagi kemampuan dan ingatan mereka untuk mengenali Tuhannya, Allahu Robbul 'alamin. Kembalikan lagi mereka ke dalam fitrahnya. Inilah kebutuhan mendasar bagi ruh nya, kenalkan ia kepada ketauhidan, selami ia pada ilmu-ilmu agama Islam. Tumbuhkan rasa cintanya pada kalamullah, Al-Quranul karim, sebagai manual book bagi kehidupannya. Kenalkan ia pada sosok suri tauladan bagi ummat Islam, Nabiyullah Muhammad saw. Tuntunlah ia untuk mengidolakannya, mempelajari kisah hidupnya, meneladani perkataan dan perbuatannya yang tertuang di dalam sunnah-sunnahnya, dan mencintainya pula agar shalawat senantiasa tercurah pada baginda nabi. Jika anak sudah dapat mencontoh tingkah laku dan tutur kata Nabi, InsyaaAllah mereka akan berusaha menjadi pribadi yang berakhlakul karimah (akhlak yang mulia). Perkokoh ketauhidan dan keislamannya dengan Rukun Islam dan Rukun Iman yang terpatri kokoh dalam jiwanya. Setelah itu, barulah kita beri bekal ilmu yang mumpuni bagi akal dan fisiknya.

Bagi kebutuhan akalnya, kita bisa mengawalinya dengan mengenalkannya pada lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang paling dekat dengannya. Inilah yang selanjutnya akan berkembang secara alami pada diri anak menjadi bercabang-cabang ilmu, mulai dari sains sampai kehidupan sosial. Asahlah dengan tajam apa yang diminati jiwanya. Jangan sampai terjejali akal pikirannya dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat. 


Ketika ia mulai hadir didunia ini, tugas kitalah sebagai pemandunya, ibarat seorang guide bagi orang asing yang baru mengenal sebuah negeri. Ajarkan secara alami sesuai perkembangan psiko-motoriknya. Carilah informasi mengenai tumbuh kembang anak mulai dari lahir hingga ia menginjak dewasa. Ini bisa kita dapatkan secara ilmiah di rumah sakit, pelayanan kesehatan anak, dan lain sebagainya. Jika ingin lebih profesional, kita bisa membuat daftar kolom perkembangan psiko-motorik dan daftar kegiatan yang dapat menstimulasi perkembanganya. Barulah pada usia pra sekolah dan sekolah, selanjutnya kita bisa membuat seperti jadwal pelajaran atau silabus pembelajaran. Bahkan kita bisa membuat kurikulum sendiri yang sesuai dengan perkembangan serta kompetensi anak. Bagi bunda yang sudah mahir dan lihai berselancar di dunia maya, sudah banyak sekali pilihan dan informasi menarik seputar pendidikan yang dapat menginspirasi bunda-bunda saat menjalankan peran guru bagi sekolah ibu :). Atau jika kita mau menjallin silaturahim, maka mulailah untuk melakukan observasi ke sekolah-sekolah bayi atau anak, baik yang formal ataupun informal, sekaligus nantinya bisa dengan mudah memilihkan sekolah formal untuk anak kita.  Atau jika bunda memutuskan ingin melakukan homeschooling untuk pendidikan anak, bisa berdiskusi bersama sahabat Ibu lain yang sudah sukses membina homeschooling atapun sudah sukses mendidik sang buah hati dengan tangannya sendiri. Pilihan yang tepat ada di tangan bunda dan buah hati, diskusikan bersamanya apa yang terbaik bagi dirinya.

Bagi kebutuhan fisiknya, penuhilah tubuhnya dengan makanan yang halal dan thoyibah. Jika sudah halal dan thoyibah, InsyaaAllah sudah pasti sehat dan bergizi. Karena makanan yang halal dan thoyib sejatinya adalah pola makanan yang sudah diatur Allah SWT untuk memenuhi kebuthan dasar tubuh manusia, sebagai zat Khalik yang memang mengenal makhluk yang Ia ciptakan. Maka tak ada keraguan lagi. Ajarkan anak untuk mengenal konsep halal, haram dan syubhat. Namun tetap arahkan untuk selalu memilih yang halal dan baik (thoyib). Dalam hal pelatihan fisik serta olah tubuh ragawinya, asahlah motoriknya dengan mengenalkan anak pada olahraga. Minimal olahraga yang dianjurkan Rosulullah saw. Yaitu berkuda, memanah dan berenang. Inilah yang saya kutip dari situs nuranifkmui.com :

Dengan berkuda, masalah tulang belakang manusia dapat terawat dengan baik. Karena, semasa pergerakan kuda melompat dan berlari menyebabkan tulang belakang manusia bergesek satu sama lain dalam keadaan harmoni sehingga saraf-saraf tulang belakang seolah-olah diurut.

Dengan memanah, kita dapat melatih emosi kita. Memanah sangat menitikberatkan body balancing. Maka jika pemanah emosinya tertekan, maka panahan amat mudah tersasar. Seseorang yang sikapnya tidak sabar, pemarah atau kurang baik mentalnya maka, ia tidak akan menjadi pemanah yang baik. Rasulullah saw. bersabda,” Kamu harus belajar memanah karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (Riwayat Bazzar, dan Thabarani dengan sanad yang baik).

Dengan berenang, akan menambah stamina tubuh kita karena segala otot dan tulang rangka digerakkan untuk membuat satu gerakan yang berkoordinasi antara dua anggota kaki dan dua anggota tangan. Berenang juga memberi peluang manusia untuk menguasai air sehingga manusia menjadi makhluk yang berani.

Rasulullah saw. bersabda, “Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda)” (HR. Muslim). Umar bin Al-Khaththab radiallahu ‘anhu juga berkata: “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Dengan berolahraga seperti itu, kita telah mempersiapkan dan melatih jasmani kita agar senantiasa kuat dan sehat dalam menjalankan tugas-tugas yang allah swt. berikan. Sesungguhnya allah swt. sangat menyukai umatnya yang kuat dibandingkan yang lemah.

Semoga dengan memenuhi tiga kebutuhan mendasar manusia tersebut, kita dapat menjadi Ibu yang benar-benar bisa melahirkan pemimpin terbaik untuk generasi masa depan. Membentuk sosok-sosok khalifah Allah yang tangguh di kemudian hari. Sehingga saat sepeninggal kita, keimanan yang kokohlah yang terpatri didalam jiwanya, akal pikiran yang sehatlah yang membantunya menjalani kehidupan ini, dan raga yang kuat juga mampu mendukungnya dalam beramal shalih, amar ma'ruf nahi munkar.

Akhir kata, dengan tulisan ini bukan berarti saya sudah menjadi Ibu yang profesional yang mengajarkan bunda-bunda semua, saya pun masih belajar dan sarat akan kekhilafan dan kefakiran ilmu. Mari sama-sama belajar menjadi Ibu yang profesional bagi anak-anak kita, sebagai amanah suci yang Allah titipkan kepada kita. Semoga buah pikiran dari diri pribadi ini bisa menjadi amunisi dan motivasi bagi bunda semua, terlebih saya pribadi secara khusus. Semoga kita bisa mengemban tugas  Al Ummu Madrosatul 'ula dengan sebaik-baiknya. Aamiin Aamiin Allahumma Aamiin.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

 
Jakarta, Kamis 13 November 2014
Salam,
Ummu Maiza


[islamedia/okeonline/jnd)

Berhijab, Yulia Rachman Aktif di Kegiatan Dakwah

13:23
Sejak memutuskan berhijab, Yulia Rachman banyak terlibat aktif di kegiatan dakwah seperti mengikuti majelis taklim dan pengajian.


Seperti dikutip Tabloidbintang, Yulia mengaku senang dengan aktivitas yang dilakukanya.

"Ini kerja sama beberapa majalah dan majelis taklim, mengadakan kajian muslimah. Aku jadi bintang tamunya," ujar Yulia Rabu (26/11)
di Masjid Raya Bintaro Jaya, Jl. Maleo Bintaro Jaya Sektor IX, Tangerang Selatan, .

Meski tengah menikmati aktivitas barunya, Yulia mengaku belum meninggalkan profesinya di dunia hiburan.

Sekarang, itu 2 anak itu lebih membatasi pekerjaan di dunia entertain.

"Bukannya aku ninggalin dunia entertain. Aku lagi membatasi diri, mana yang manfaat buat aku. Ini (kegiatan keagamaan) bekal untuk kita bila suatu hari berpulang," tegasnya.
 
sumber : islamedia.co

Jeritan Wanita Barat dan Kekagumannya Kepada Wanita Muslimah…

10:27
Jeritan wanita barat dan kekagumannya kepada wanita Muslimah…
Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon .

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk

“Kepada Saudariku Para Muslimah”;.
Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingi mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.

Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagiaan yang tetap terpancar dari wajah kalian.

Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan
Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.

Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.
Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas.

Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.

Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga.

Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.
Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja.
Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan
meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.

Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.

Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.
Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.

Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !
Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.

Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi
. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.
Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal.

Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.

Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai.

Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.

Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.

Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.

Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang.

Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !.

sumber :
note seorang sahabat
Ahmad Come- Mahlili Yusup

di copy dari: eramuslim.com

Kaum Perempuan di Simpang Zaman

09:07
Di balik setiap perkembangan zaman, ada peran wanita. Di balik seorang laki-laki hebat ada peran wanita yang hebat. Begitulah wanita yang mampu mengoncang dunia dengan tangannya tanpa melupakan kodratnya.
Ibnu Taimiyah berkata, “Kebahagiaan dan kesejahteraan wanita dalam agama dan dunianya adalah hemat, sederhana dan seimbang.”

Sebagaimana para tokoh wanita masa lalu yang jasadnya telah dimakan zaman namun namanya tetap mengabadi di lembaran sejarah. Di negri inim 21 April diperingati sebagai hari Kartini yang identik dengan perjuangan wanita yang dinisbatkan pada sosok bernama “Kartini”, berupa perjuangan di bidang pendidikan atau yang paling terkenal adalah perjuangan berupa kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan yang sudah jauh lebih awal diajarkan Islam.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (Qs.At-Taubah:71).

Terlepas dari sosoknya yang kontroversial dalam sejarah, begitulah Kartini yang dikenal dalam rangka menggugah para wanita zaman ini untuk mampu berbuat lebih, tak hanya terkukung oleh doktrin turun-temurun leluhur bahwa “wanita tidak usah sekolah tinggi-tinggilah, baliknya ke dapur lagi”, namun saya ikut berduka saat pemahaman tentang perjuangan hak wanita ini mulai keluar batas aturan, karena terlalu silau dengan budaya Barat.

Padahal, ada banyak fakta dan data yang seharusnya diperhatikan oleh mereka yang terbuai dengan Barat. Di Eropa dan Amerika pada setiap 15 detik terjadi kekerasan atas wanita. Belum lagi jika ditambah dengan kasus perkosaan setiap harinya. Sehingga Amerika tercatat sebagai negara tertinggi dalam hal kekerasan terhadap wanita. Menurut catatan UNICEF, 30% kekerasan pada wanita terjadi di Amerika dan 20% di Inggris. Maka kebebasan apakah ini ???

Kenyataanya, di Indonesia kini terjadi distorsi nilai budaya dan agama, yang berdampak pada moral bangsa. Inilah euforia yang disenandungkan oleh para penyuguh paham liberalisme tentang kebebasan berekspresi.

Dengan dalih kebebasan itu, kita hari ini melihat fenomena banyaknya sajian TV yang memunculkan para wanita yang berpakaian tapi telanjang di setiap sinetron bahkan iklan yang sedikit pun tidak ada kaitannya dengan wanita.

Di sisi lain masyarakat awam pun terbentuk persepsinya bahwa wanita yang maju dan berpendidikan, yang memiliki penampilan dan gaya hidup yang hedonis, hal ini diakibatkan karena hari ini tingkat pendidikan perempuan masih rendah, padahal perempuan merupakan setengah dari masyarakat dan pembinaannya dalam mengokohkan tiang negara ini haruslah diperhatikan.

Kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak-anak, laki-laki maupun anak perempuan masih sangat rendah. Jika di jaman Kartini, sebagai keluarga ningrat ia hanya berkesempatan bersekolah selama enam (6) tahun, hingga usia 12 tahun, kini rata-rata lama sekolah anak Indonesia adalah 7,7 tahun (angka rata-rata nasional ). Rata-rata lama sekolah anak perempuan lebih pendek (7,3 tahun) dibandingkan rata-rata lama sekolah anak laki-laki (8,2 tahun).

Di beberapa propinsi, lama anak sekolah jauh lebih rendah dari angka rata-rata nasional, seperti Nusa Tenggara Timur (6,6 th), Kalimantan Barat (6,6 th), Sulawesi selatan (7,4 th), Gorontalo (7,2 th) dan Papua (6,4 th).

Data ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia di Indonesia umumnya hanya berkesempatan mengenyam pendidikan tingkat SLTP (sekolah Lanjutan Pertama) untuk laki-laki dan perempuan hanya tamat Sekolah Dasar (SD).

Pada gilirannya, tingkat pendidikan yang rendah tersebut akan berdampak pada terbatasnya pilihan-pilihan untuk melakukan berbagai upaya pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya serta hak sipil dan politik.

Upaya mewujudkan keterwakilan perempuan di lembaga pengambilan keputusan sekurang-kurangnya 30% dari jumlah seluruh pengambil keputusan, besar kemungkinan akan terus mengalami rintangan karena rendahnya tingkat pendidikan perempuan. Bahkan dalam realitanya, rendahnya tingkat pendidikan perempuan mengakibatkan yang bersangkutan menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia, terjebak dalam relasi kerja yang eksploitatif dan predatory.

Memang, tingkat pendidikan salah satu indikator yang mampu menjadi efek bagi faktor yang sosial lain, namun yang terpenting bukan hanya pada pendidikan formal saja, tetapi pendidikan moral dan agama ini sangat penting untuk ditingkatkan terlebih perempuan adalah madarasatul’ula,yang tak hanya mampu menjadi seorang “Kartini” namun dapat menjadi Aisyah yang menjadi rujukan para ulama besar sebagaimana

pernyaataan Nabi Saw. “Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humairah (Aisyah)”, hingga akan lahir para wanita yang cerdas, berpendidikan, dan berakhlakul karimah.

Penulis : Najwa Raisa

*eramusilim.com

Berhijablah...!

13:13
Hijab itu 'baju'-nya Muslimah yang dipilihkan Allah, maka pekerjaan bukan alasan meninggalkannya
maka tanpa hijab Muslimah itu hakikatnya 'telanjang' dihadapan Allah, malukah kita berlaku demikian dihadapan Sang Pencipta?
 

maka sesiapa pun yang melarang atau tidak memberi izin hijab, sebenarnya dia menantang Allah dan segala ketentuan-Nya | naudzubillah..
dan seharusnya Muslimah punya prinsip atas hijabnya, bila Allah memang lebih diutamakan dari manusia
kebenaran bukan untuk ditawar dan hijab itu bukan pilihan, menetapi kebenaran itu wajib dan hijab itu bagian ketaatan
 

maka saat hijab seorang Muslimah dilarang oleh pekerjaan, tak usah banyak pikir, tinggalkan, untuk apa bekerja namun 'telanjang'?

Allah yang memberi rezeki trilyunan makhluk hidup di bumi, takkan pernah lupa memberi isi satu lambung Muslimah beriman
ketimbang memaksa bekerja sambil 'telanjang' tanpa hijab, hasil memang didapat tapi tidak ada barakah lalu untuk apa?
hidup bukan hanya di dunia bagi mereka yang meyakini, maka hijab bukan pilihan tapi kewajiban bagi yang mengimani

Semoga kita termasuk umat yang dirindukan Rasulullah SAW yang selalu tetap istiqamah mengikuti dan mengamalkan Sunnah - Sunnah Beliau. Aamiin.
Silahkan vote+1 dan bagikan agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT...aamiin  


sumber : Google+

"Istri Multitasking" | Oleh Cahyadi Takariawan

13:42
Secara umum perempuan memiliki kemampuan multitasking, yaitu bisa mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus pada satu waktu, sedangkan rata-rata laki-laki hanya dapat fokus melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu.

Misalnya saat mengobrol dengan suami, sang istri bisa melakukannya sambil mengerjakan hal lain, seperti membuka gadget untuk membaca dan membalas pesan yang masuk. Sementara suami jika sedang mengobrol, tidak bisa diganggu dengan aktivitas lain.

Maka ketika sedang mengobrol berdua dan istri membuka-buka gadget, suami merasa tidak senang karena merasa tidak diperhatikan. Walaupun istri melakukan hal itu tanpa terganggu, namun tindakan itu bisa menyinggung perasaan suami.

Untuk itu, saat mengobrol dengan suami, fokuslah dan benar-benar meluangkan waktu untuknya. Itu akan menunjukan prioritas untuknya sekaligus bukti rasa hormat serta sayang kepada suami.

Selamat siang sahabat. Ini sedang makan siang di SMS (Sate Mak Syukur) Padang Panjang....

Jumat, 17 Oktober 2014

(Cahyadi Takariawan)

*piyungan online

Wahai Para Istri, Bersegeralah untuk Suamimu

08:37
“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud kepada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)”.

ARUS globalisasi begitu cepat. Tidak saja mewarnai kehidupan remaja, tetapi juga rumah tangga. Menjamurnya gadget misalnya, tidak sedikit hubungan suami istri yang berjalan apa adanya.
Sejatinya, globalisasi, termasuk gadget memiliki sisi manfaat. Namun jika tak berhati-hati, ia juga akan menjadi “pisah pembunuh” pemiliknya.

Berdasarkan survei American Academy of Matrimonial Lawyers, satu dari lima perceraian di Amerika Serikat disebabkan oleh jejaring sosial Facebook. Dikutip dari The Frisky, 80 persen pengacara perceraian melaporkan lonjakan jumlah kasus yang menggunakan media sosial sebagai bukti perselingkuhan pasangan.
Kebanyakan bukti yang diperlihatkan adalah foto-foto mesra yang menjadi penyebab percekcokan pasangan. Kasus lainnya, banyak pasangan yang menemukan dan berselingkuh dengan mitra mereka di masa lalu.

Hal itu menjadi bukti bahwa para pasangan harus benar-benar berupaya sungguh-sungguh dan berkomitmen dalam menjaga keutuhan rumah tangganya. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang istri untuk benar-benar tidak lalai dalam menjalankan tugas mulianya kepada suami, terutama ketika suami memang benar-benar sedang berkepentingan terhadap istrinya.

Tidak ada Nanti, Tapi Siap Segera
Seorang istri yang mengharap ridha Allah tidak akan berani mendahulukan apapun selain daripada keridhoan suaminya. Maka, ketika suami memanggil, dalam keadaan apapun, apalagi kalau hanya sedang bersosial media, istri yang sholehah akan segera menemui suaminya.

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur-untuk berjima’ lalu isterinya menolak, melainkan penghuni-penghuni langit akan murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim).

Dengan kata lain, seorang istri tidak diperkenankan menunda apalagi sampai menolak ajakan suami. Jangankan dalam keadaan santai, dalam keadaan bekerja di rumah pun seorang istri wajib mendahulukan panggilan suaminya.

Hal ini tentu mengandung maslahah yang sangat besar bagi kelangsungan rumah tangga itu sendiri. Sebab, istri yang taat dan patuh terhadap suami, utamanya dalam hal panggilan khusus suaminya akan benar-benar menentramkan hati dan menyelamatkan iman sang suami. Dan, suami yang mendapati istri sedemikian patuh dan hormat, tentu akan sangat bersyukur dan sayang terhadap istrinya.

Dan, sebagai catatan, betapa seorang istri harus benar-benar taat kepada suaminya adalah apa yang Rasulullah tegaskan di dalam sebuah hadits.
“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud kepada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)”.

Dengan demikian, wahai para istri, lihatlah agenda hidupmu, sudahkah selama ini benar-benar mendahulukan suami daripada yang lain.

Atau jangan-jangan, masih lebih mementingkan yang lain daripada bersegera taat kepada suami.
Ingatlah, urusan rumah tangga adalah yang paling utama dari apapun. Apalagi jika dibandingkan dengan chatting, sosial media atau apapun yang modern dan canggih yang berada dalam genggaman. Sebab, keridhoan suami adalah kunci surga bagi para istri. Dan, jika tidak diupayakan sedari dini bagaimana mentaati suami, bagaimana mungkin ada keinginan bisa mendapat ridha Ilahi? Wallahu a’lam.
 
*Hidayatullah.com

Fenomena Isteri-isteri Zaman Sekarang

11:44
Saat ini banyak lelaki yang mengatakan betapa susahnya mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria syariat. Apalagi di kota-kota besar di mana pergaulan anak-anak perempuan begitu bebas. Belum lagi pengaruh budaya impor dari Barat yang masuk melalui telivisi yang kemudian ditiru menjadi gaya hidup. Zaman sekarang, untuk mencari pasangan memang harus hati-hati.

Laki-laki bila ditanya kriteria apa yang diinginkan untuk calon istrinya, yang pertama dijawab pasti wanita yang keibuan. Artinya wanita itu punya sifat lembut, penuh kasih sayang, cinta kepada anak kecil dan punya sifat perhatian.

Nah, kenyataannya pada masa sekarang, telah jarang wanita punya sifat keibuan. Yang jadi fenomena saat ini adalah para wanita muda senang hura-hura, mengidolakan artis-artis sinetron yang jelas-jelas punya prilaku bebas, matre/ materialistis (cinta harta), malas dan boros. Dan yang lebih parah lagi yaitu mereka tidak mengerti agama.

Kepada ALLAH ia jauh, sedang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak kenal. Dengan orang tua tak ada hormatnya, bahkan senang menghujat orang tua temannya (yang maksudnya mungkin baginya hanya saling canda, tetapi karena panduannya sinetron maka candanya itu mengumpat orang tua temannya). Padahal itu termasuk dosa besar. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ 
الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara dosa besar adalah seorang laki-laki mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah,

‘Apakah (mungkin) seorang laki-laki mencela orang tuanya? ‘ Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.” (Hadits muttafaq ‘alaih, disepakati shahihnya oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dan satu lagi fenomena rusaknya wanita muda sekarang, yaitu sangat percaya diri yang sangat kuat dan dihinggapi pula apa yang disebut narsis sehingga mengakibatkan hilangnya rasa tawadhu’, apalagi rasa takut kepada ALLAH, itu hal yang tak mereka fikirkan.

Dikhabarkan, semakin mendekati qiyamat, jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki. Dalam kenyataan, meskipun wanita itu banyak, tetapi laki-laki tetap susah untuk memilih wanita sebagai pendamping hidupnya. Lain hal dengan laki-laki yang asal pilih. Asal senang sama senang sudah jadi. Yang begini tentu saja akan mudah didapat.

Ketika si wanita telah menjadi istri, ia tidak paham bagaimana mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Ia tidak tahu kewajiban untuk beribadah kepada Robb nya, karena selama menjadi remaja, ia hanya hura-hura. Ia pun tidak paham bagaimana bakti kepada suami. Karena selama ramaja panduan pendidikannya adalah artis-artis sinetron, yang diantaranya mengajarkan seorang istri melawan suami, seorang istri tidak tunduk kepada suami, dan digambarkan bagaimana cara menentang suami agar suami takut dengan istri.

Fenomena rusaknya wanita masa kini yang jauh dari kriteria wanita yang keibuan telah merasuki hampir seluruh wanita-wanita muda yang akan menjadi ibu rumah tangga. Padahal untuk memasuki dunia rumah tangga ada kewajiban yang besar yang mau tidak mau harus diikuti yaitu bakti kepada suami.
Hidup adalah untuk ibadah kepada sang pencipta, ALLAH SWT. Salah satu ibadah seorang istri yakni mematuhi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah berbakti kepada suami.

Janganlah diikuti fenomena yang sekarang sedang melanda para wanita.
Ikuti apa yang telah diajarkan agama. Karena biar bagaimanpun wanita dituntut untuk punya sifat keibuan dalam perannya sebagai istri. Wanita dituntut untuk taat kepada ALLAH SWT dan bakti kepada suaminya.
Bila perannya sebagai istri tetapi prilakunya masih mengikuti fenomena yang melanda para wanita muda masa kini, prilakunya mengikuti sinetron-sinetron maka tak akan ada kata tenteram dalam rumah tangganya dan tunggulah saat kehancuran diri dan keluarganya, serta tak akan ada jaminan selamatnya seorang ibu rumah tangga kelak di akhirat. Maka satu-satunya jalan menuju ketenteraman jiwa dan ketenteraman keluarga adalah bakti kepada suami setelah bakti kepada Allah Ta’ala. Ikuti peraturan agama. Selalu belajar sabar untuk menjalani peran sebagai istri dengan sederet kewajiban yang harus ditaati.

Perlu disadari Ridho ALLAH berkaitan pula dengan hubungan isteri terhadap suami. Sebaliknya, kemarahan suami dapat mengakibatkan datangnya laknat bagi isteri. Contohnya adalah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا بَاتَتْ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdda: “Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka Malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ini menunjukkan haramnya isteri menolak ajakan suami di tempat tidur tanpa halangan syar’i dan tidak karena haidh (ketika haidh pun suami masih punya hak untuk bersenang-senang dengan isteri di luar kain). Hadits ini artinya, laknat akan terus menerus atas isteri sehingga ia tidak lagi maksiat (dengan penolakannya itu) karena telah terbitnya fajar atau dengan bertaubatnya atau kembali ke tempat tidur suaminya.
Sebaliknya, suami juga tidak boleh dhalim kepada isteri. Sehingga lelaki yang terpuji adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap keluarganya yakni terutama kepada isteri.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَإِذَا مَاتَ صَاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ

Dari ‘Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik kepada keluarganya, apabila sahabat kalian meninggal, maka biarkanlah (jangan mengungkit-ungkit kejelekannya).” (HR Ad-Darimi).

Ketika isteri berbakti kepada suami, sedang suami adalah orang yang baik kepada isterinya, maka di situlah terjalin rumah tangga yang harmonis dalam ridho Allah, insya Allah. Dan itulah yang disebut keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, keluarga yang tenteram, diliputi cinta dan kasih sayang. Itu semua hanya dapat diperoleh dengan jalan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala yang telah dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam. Oleh karena itu dalam hadits, wanita yang direkomendasikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperisteri adalah yang baik agamanya. Bila tidak, maka celaka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَز أخرجه البخاري، ومسلم ، وأبو داود، والنسائي.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamannya. Carilah yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An-Nasaai).
Sebagaimana agama (Islam) itu hanya untuk kemaslahatan di dunia dan akherat, maka ketika orang memiliki ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik, di situlah maslahat yang besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akherat. Demikian pula dalam berumah tangga. Maka rumah tangga yang diharapkan berisi isteri yang berbakti kepada suami dan suami yang baik terhadap isteri dan keluarganya tidak lain hanya ada pada orang-orang yang mengerti agama dan mentaatinya.

Oleh karena itu bagi wanita yang sudah berkeluarga, handaknya tidak henti-hentinya menimba ilmu agama dan mengamalkannya agar mampu berbakti kepada Allah dan juga kepada suami serta bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi amanahnya. Sedangkan wanita yang belum atau tidak bersuami pun demikian pula, karena mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya itu bukan hanya untuk ketika adanya suami. Berbakti kepada Allah itu wajib, kewajiban nomor satu, dan itu wajib pula dilandasi dengan ilmu. Maka bagaimanapun, mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya itu tetap dituntut dalam hidup ini.
Dan berbahagialah para wanita yang mampu menjalankan ini. Sehingga mampu berbakti kepada Allah, masih pula berbakti kepada suami.

Seberapa kadar berbakti kepada suami itupun perlu dipelajari dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menegaskan:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ ».

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan para wanita agar bersujud kepada suami-suami mereka, karena hak yang telah Allah berikan atas mereka.” (HR Abu Daud, dishahikan Al-Albani dalam Shahih Abi Daud nomor 1873).
Itulah petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila isteri mematuhi agamanya (Islam) dan taat kepada suaminya (mengenai hal-hal yang tidak dilarang Allah dan Rasul-Nya) maka diberi khabar gembira sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ
 زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ (ابن حبان عن أبى هريرة . أحمد عن عبد الرحمن بن عوف . البزار عن أنس)

Dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar, menurut Al-Albani hasan lighairih).

Khabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hendaknya diperhatikan dan ditaati oleh setiap wanita Muslimah, agar berbahagia di dalam berumah tangga atau hidup di dunia ini, dan juga bahagia di akherat kelak.
(Dari buku Lifestyle Wanita Muslimah, Meluruskan Gaya Hidup Semu, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

eramuslim.com